<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-323191937197769501</id><updated>2012-02-16T19:59:11.820-08:00</updated><category term='beaker glass'/><category term='paracetamol_spektrofotometri'/><category term='MSDS'/><category term='prakata'/><category term='dan panelis dlama uji organoleptik'/><category term='sampel'/><category term='buah dan sayur'/><category term='K3'/><category term='persiapan ruang'/><category term='organoleptic test'/><category term='SUSU'/><title type='text'>sahabat lab kimia</title><subtitle type='html'>anyeong,,,, fau limidha</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/323191937197769501/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>faulampung</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_Cjw3gNDtzIs/SqR3soMJJFI/AAAAAAAAAAs/gZeQB16CqFs/S220/fau+di+lantai+1+polije+office3.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>15</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-323191937197769501.post-6823039884954582302</id><published>2009-12-07T20:11:00.000-08:00</published><updated>2009-12-07T20:14:58.206-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sampel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dan panelis dlama uji organoleptik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='persiapan ruang'/><title type='text'>PERSIAPAN RUANG, SAMPEL, DAN PANELIS DALAM PENGUJIAN ORGANOLEPTIK</title><content type='html'>PERSIAPAN RUANG, SAMPEL, DAN PANELIS DALAM PENGUJIAN ORGANOLEPTIK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. LEMBAR INFORMASI-1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan pengujian secara organoleptik sangat tergantung dari beberapa faktor, diantaranya ruang pengujian, sampel atau contoh yang akan diuji, dan panelis atau personal yang akan menguji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Persiapan Ruang Pengujian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengujian sensoris/organoleptik tidak memerlukan fasilitas khusus akan tetapi beberapa fasilitas dasar harus dipenuhi supaya pengujian dapat dilaksanakan dengan efisien dan hasilnya dapat dipertanggungjawabkan. Walaupun ruang khusus yang dirancang untuk pengujian organoleptik akan menghasilkan lingkungan pengujian yang terbaik, laboratorium yang ada juga dapat diubah untuk menjadi ruang pengujian. Fasilitas/ruang yang harus disiapkan untuk pengujian organoleptik adalah:&lt;br /&gt;1. Ruang persiapan makanan&lt;br /&gt;2. Ruang untuk diskusi&lt;br /&gt;3. Ruang/sekat pengujian yang tenang&lt;br /&gt;4. Meja atau ruang untuk penguji/peneliti&lt;br /&gt;5. Ruang pendukung untuk persiapan dan penyajian sampel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Fasilitas Pengujian Yang Permanen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desain fasilitas pengujian sensoris yang permanen ditentukan oleh metode pengujian yang akan dilakukan, jumlah pengujian yang dikerjakan, serta ruang dan sumber yang diinginkan. Untuk tempat/ruang pengujian, dinding sebaiknya dicat dengan warna netral. Permukaan bahan/material harus bebas dari berbagai macam bau baik untuk konstruksi dinding, lantai, maupun langit-langit ruangan. Beberapa jenis kayu, karpet dan plastik yang mengeluarkan bau/aroma akan mengganggu dalam pengujian, oleh karena itu harus dihindari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Ruang Persiapan Makanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang untuk persiapan makanan sebaiknya memiliki wadah makanan, tempat pencuci peralatan, peralatan memasak, refrigerator, dan ruang penyimpan, serta ruangan harus memiliki ventilasi yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Counter/wadah. Wadah yang sesuai diperlukan sebagai tempat untuk menyiapkan makanan, dan menyimpan baki sampel sebelum disajikan kepada panelis. Tinggi wadah sekitar 90 cm nyaman untuk bekerja. Standar kedalaman wadah sekitar 60 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat cuci piring (sink). Minimal 2 tempat cuci piring untuk air panas dan dingin disiapkan. Air dari keran yang keluar pada tempat pencucian tidak boleh berbau dan kotor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peralatan masak. Kompor gas atau listrik dan oven disediakan, oven microwave mungkin juga diperlukan untuk menyiapkan makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Refrigerator. Penyimpan dingin penting untuk menyimpan bahan makanan yang mudah rusak dan diperlukan untuk mendinginkan sampel sebelum disajikan. Refrigerator juga sebaiknya dilengkapi dengan freezer yang terpisah yang dapat digunakan untuk menyimpan bahan makanan lebih lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat penyimpanan. Lemari untuk piring dan peralatan pendukung dirancang di bawah wadah/counter dan juga dapat dibuka ke arah area panel/pengujian. Dibuka ke arah area panel diperlukan untuk menyimpan baki saji selama pengujian disiapkan. Penempatan di bawah wadah/counter dapat digunakan untuk menyimpan serbet, pensil, sendok dan garpu plastik, serta alat pendukung lainnya.&lt;br /&gt;Ventilasi. Ventilasi dengan exhaust fan dipasang di atas kompor untuk mengurangi bau yang disebabkan oleh pemasakan dari area persiapan dan untuk mencegah penyebaran bau ke ruang pengujian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Ruang Untuk Diskusi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pengujian berorientasi produk, diperlukan ruangan dimana panelis dapat bertemu dengan peneliti untuk mendapatkan instruksi, pelatihan dan diskusi. Ruang diskusi ini terpisah dengan ruang persiapan sehingga suara dan bau masakan tidak mengganggu tugas panelis. Ruangan ini juga tidak terganggu oleh personal laboratorium. Ruangan harus nyaman, dilengkapi dengan meja besar dan bangku/ kursi yang idealnya diatur minimal untuk 10 orang. Papan tulis dan flip chart diletakkan ditempat dimana semua panelis dapat melihatnya dengan jelas. Papan pengumuman diletakkan dekat pintu masuk, berisi peraturan dan informasi persyaratan panelis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) Ruang/sekat Pengujian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang/sekat pengujian, seperti ruang diskusi, harus terpisah dengan ruang persiapan. Sekat pengujian dapat berada dalam satu ruangan yang sama dengan ruang diskusi. Sekat pengujian digunakan untuk seorang panelis yang dapat menilai sampel tanpa pengaruh dari panelis lainnya. Setiap sekat/ruang dilengkapi dengan wadah/counter, bangku atau kursi, lampu dan outlet listrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d) Ruang Peneliti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang ini diperlukan oleh peneliti untuk meyiapkan format dan laporan pengujian, analisis data dan menyimpan hasil pengujian. Ruang ini dilengkapi dengan meja, filing cabinet, dan calculator atau komputer dengan program statistik untuk mengolah data.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e) Pendukung Pengujian Sensoris&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang pengujian sebaiknya dilengkapi dengan peralatan untuk penyiapan makanan dan wadah-wadah kecil untuk menyajikan sampel pada panelis. Semua peralatan harus terbuat dari bahan yang tidak akan mentransfer bau atau flavor pada makanan saat penyiapan ataupun penyajian. Peralatan untuk persiapan dan penyajian makanan, dapat digunakan yang sekali pakai ataupun yang berulang kali dipakai (bahan gelas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peralatan untuk persiapan makanan. Timbangan yang akurat, pipet, gelas ukur dan gelas saji dengan berbagai volume diperlukan untuk  membuat pengukuran yang tepat selama penyiapan dan penyajian makanan. Gelas (seperti pyrex) atau gelas keramik lebih baik dipilih dibandingkan dengan bahan logam. Karena bahan gelas atau gelas keramik tidak menimbulkan bau atau flavor selama pemasakan. Jika hanya bahan logam yang tersedia,  lebih baik memilih bahan stainless steel dibandingkan peralatan masak dari bahan aluminium, kaleng atau besi. Termometer dan peralatan dapur lainnya seperti saringan, pembuka kaleng, pisau,  garpu, sendok, mangkok, dan piring, juga diperlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wadah sampel. Wadah sampel dipilih berdasarkan ukuran dan karakteristiknya. Ukuran wadah bervariasi berdasarkan jenis dan jumlah produk yang akan diuji. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baki. Baki plastik atau logam untuk menyimpan sampel yang akan disajikan untuk setiap panelis, harus disiapkan. Baki pemanas elektrik untuk setiap sekat panelis disarankan untuk disediakan bagi sampel yang harus hangat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendukung lainnya. Sendok, garpu dan pisau plastik, serbet, cangkir gelas atau yang sekali pakai untuk air, poci besar, juga diperlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;2) Fasilitas Pengujian Sementara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika area pengujian khusus tidak ada, tempat pengujian sementara dapat dirancang dengan memperhatikan persyaratan dasar untuk tempat pengujian secara organoleptik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Ruang Persiapan Makanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fasilitas masak sementara dapat ditata dala laboratorium dengan menggunakan hotplate, dan wadah styrofoam dapat digunakan agar tetap hangat untuk waktu yang pendek. Penyiapan baki dapat dilakukan di luar area apabila area pengujian terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Ruang/Sekat Pengujian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampel dapat disajikan untuk dinilai dalam area yang disekat dimana gangguan, bising dan bau dapat diminimalkan. Ruang makan atau ruang minum kopi yang tidak digunakan pada saat pengujian organoleptik dapat dipakai sebagai ruang pengujian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) Meja Peneliti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peneliti memerlukan ruang untuk menyiapkan format pengujian, rencana pengujian, dan analisis/pengolahan data. Oleh karena itu diperlukan meja untuk kegiatan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d) Pendukung Pengujian Sensoris&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peralatan pendukung lainnya diperlukan sama seperti pada fasilitas pengujian permanen/khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Persiapan Sampel/Contoh Uji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Persiapan Contoh Uji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persiapan sampel/contoh uji harus benar-benar diperhatikan. Persiapan sangat tergantung dari metode pengujian dan jenis makanan yang akan diuji. Semua variasi faktor seperti waktu dan suhu pemasakan, jumlah air dan ukuran panci untuk merebus, serta waktu dan kecepatan mencampur, harus diperhatikan dan dilakukan secara konstan pada saat pengujian produk. Selama proses persiapan, tidak boleh ada bau dan rasa yang asing pada produk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampel atau contoh uji yang harus dilarutkan, diukur dengan tepat untuk setiap panelis dengan ukuran yang sama. Contoh uji yang harus disajikan hangat, harus diberi alat penghangat yang sama unyuk masing-masing panelis, demikian juga untuk contoh uji yang disajikan dingin. Hal ini dimaksudkan agar setiap panelis mendapatkan contoh uji yang sama sehingga penilaiannya menjadi akurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tiap pengujian, contoh uji disajikan dalam jumlah yang cukup untuk pengujian, tidak terlalu sedikit sehingga menyulitkan panelis untuk menilai, dan juga tidak terlalu banyak yang dapat mengakibatkan panelis kekenyangan. Semua contoh uji disajikan dalam wadah yang sesuai dengan jumlah dan karakteristik makanan yang akan diuji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Pengkodean Contoh Uji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap contoh uji harus diberi tanda/kode. Pengkodean dilakukan untuk menghindari bias yang dapat terjadi pada panelis. Cara pengkodean yaitu dengan menggunakan nomor acak sebagai nomor kode, biasanya menggunakan nomor kode tiga angka (three digit number) yang dapat diambil dari tabel angka acak pada buku-buku statistik. Ketiga angka tersebut tidak boleh memberikan petunjuk bagi panelis mengenai contoh uji yang disajikan.&lt;br /&gt;3) Pembilas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panelis dilengkapi dengan bahan pembilas antara contoh uji. Air pembilas (air kumur) tidak boleh mempunyai rasa atau harus netral dan sesuai dengan suhu ruang. Apabila makanan berlemak yang diujikan, air pembilas disediakan dalam keadaan hangat agar lebih efektif. Waktu pembilasan antara satu produk dengan produk lainnya harus konstan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Persiapan Panelis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian secara organoleptik memerlukan fasilitas ruang dan suasana penilaian. Panelis merupakan anggota panel atau orang yang terlibat dalam penilaian organoleptik dari berbagai kesan subjektif makanan atau minuman yang disajikan. Dalam penilaian organoleptik secara umum, panelis dapat dikelompokan menjadi panel perseorangan, panel perorangan terbatas, panel terlatih dan tidak terlatih serta panel konsumen. Setiap panelis yang termasuk pada jenis panel tersebut disyaratkan berminat terhadap pekerjaan organoleptik, bersedia meluangkan waktu dan mempunyai kepekaan yang diperlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panel merupakan manusia atau instrumen yang dipakai untuk mengukur rangsangan di dalam penilaian indera, baik yang bersifat subyektif maupun obyektif. Dalam hal ini diketahui ada lima macam panel yang penggunaannya berbeda (berlaku untuk tujuan tertentu saja), yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Panel Perseorangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panel ini tergolong dalam panel tradisional atau panel kelompok seni (belum memakai metode baku). Panel ini sudah lama digunakan oleh industri tradisional (keju, minyak wangi, rempah-rempah dan sebagainya), tetapi perusahaan-perusahaan atau industri moderen sudah tidak menggunakan bentuk-bentuk ketergantungan demikian.&lt;br /&gt;Orang yang menjadi panel atau panelis perseorangan mempunyai kepekaan spesifik yang sangat tinggi, yaitu umumnya melebihi kemampuan orang-orang normal dan instrumen-instrumen fisik yang telah diketahui daya kerjanya. Kepekaan ini merupakan pembawaan lahir dan ditingkatkan kemampuannya dengan latihan yang memakan waktu lama. Di samping mempunyai kemampuan penilaian khas, juga mempunyai kemampuan mencium yang sangat cepat dan mudah lelah atau kurang peka bila menguji beberapa komoditi sekaligus untuk dinilai. Dengan kemampuan ini, peran panel perseorangan menjadi penting pada industri tertentu, sehingga tarifnya menjadi mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari beberapa kelebihan yang dimilki, terdapat juga kelemahan-kelemahannya, yaitu:&lt;br /&gt;• Penilaiannya khusus untuk komoditi tertentu atau tidak peka terhadap komoditi lain, misalnya hanya mampu untuk menilai kopi, tetapi tidak untuk teh.&lt;br /&gt;• Panelis perseorangan tidak mudah didapat, karena merupakan orang-orang istimewa. Juga mempunyai fluktuasi lebih besar dari waktu ke waktu dan dapat dipengaruhi oleh masalah kejiwaan yang nantinya berpengaruh kepada kepekaan yang dimilikinya.&lt;br /&gt;• Kadang-kadang bertingkah, yaitu melakukan hal yang merugikan atau tidak obyektif dan masih perlu dilatih untuk digunakan secara langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Panel Perseorangan Terbatas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panel perseorangan terbatas terdiri dari beberapa panelis (2-3 orang) yang mempunyai keistimewaan rata-rata dari orang biasa. Pada panel tersebut sudah digunakan alat-alat obyektif sebagai kontrol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panelis perseorangan terbatas disamping mempunyai kepekaan tinggi, juga mengetahui hal dan penanganan komoditi yang diuji beserta cara penilaian indera moderen. Cara ini dapat mengurangi ketergantungan kepada seseorang dalam mengambil keputusan, tetapi kadang-kadang antar panelis tidak sepakat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa panel perseorangan terbatas bertanggung jawab sebagai penguji, mengetahui prosedur kerja dan membuat kesimpulan dari hal yang dinilai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Panel Terlatih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panel terlatih merupakan panelis hasil seleksi dan pelatihan dari sejumlah panel (15-25 orang atau 5-10 orang). Seleksi pada panelis terlatih umumnya mencakup hal kemampuan untuk membedakan citarasa dan aroma dasar, ambang pembedaan, kemampuan membedakan derajat konsentrasi, daya ingat terhadap citarasa dan aroma. Hal ini untuk menciptakan kemampuan atas kepekaan tertentu di dalam menilai sifat organoleptik bahan makanan tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota panel terlatih yang digunakan tidak selalu dari personalia laboratorium ataupun orang non laboratorium. Orang-orang laboratorium umumnya mempunyai tingkat ketelitian yang tinggi dan tekun, tetapi tingkat kepekaannya tidak terlalu tinggi, oleh karena itu perlu pelatihan untuk mengasah tingkat kepekaannya.&lt;br /&gt;Panel terlatih umumnya ditujukan untuk menjawab dua pertanyaan dasar pada penilaian inderawi, yaitu:&lt;br /&gt;• Adakah perbedaan diantara rangsangan yang timbul?&lt;br /&gt;• Apakah arah serta intensitas dari perbedaan rangsangan tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan itu, panelis terlatih umum digunakan untuk penilaian proses dan pengembangan produk yang kompleks. Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa tugas tanggung jawabnya kurang, karena hanya dianggap sebagai instrumen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;4) Panel Tidak Terlatih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panel tidak terlatih merupakan sekelompok orang-orang berkemampuan rata-rata yang tidak terlatih secara formal, tetapi mempunyai kemampuan untuk membedakan dan mengkomunikasikan reaksi dari penilaian organoleptik yang diujikan. Jumlah anggota panel tidak terlatih ini berkisar antara 25-100 orang.&lt;br /&gt;Persyaratan panel tidak terlatih adalah:&lt;br /&gt;• Fisik yang sehat atau tidak mempunyai cacat dalam menilai sifat-sifat organoleptik dan tidak mempunyai persepsi tertentu dari suatu produk yang akan diujikan. Dalam hal ini, pemilihan orang sebagai anggota panel didasarkan pada konsep keterwakilan, misalnya menurut kelompok suku bangsa, jenis kelamin, umur, kelompok sosial (kaya-miskin) dan latar belakang pendidikan.&lt;br /&gt;• Anggota panel tidak terlatih bersifat tidak tetap, tetapi mampu mewakili golongan yang diamati, karena rata-rata mempunyai menilai sifat organoleptik yang memadai dan mampu memberikan penilaian secara bebas. Sebagai ilustrasi, industri bir biasa menggunakan orang di dalam dan di luar perusahaan, termasuk tamu-tamu yang datang sebagai anggota panel.&lt;br /&gt;• Penilaian organoleptik yang dilakukan bersifat sederhana, misalnya pengujian yang bersifat hedonik. Dalam hal ini, kemampuan berkonsentrasi, kemauan berlatih dan belajar sangat menentukan jenis panel yang akan dipakai (terlatih atau tidak). Sebagai ilustrasi, melatih dapat dilakukan 1-2 hari, tetapi untuk mengetahui sifat-sifat bahan dibutuhkan waktu berbulan-bulan. Misalnya, makanan enak atau tidak enak dapat dinilai oleh panel tidak terlatih; sedangkan sifat kelembutan, kebasaan serta kehalusan dinilai oleh panel terlatih. Hal yang sama juga berlaku untuk penilaian kesat, pahit dan sebagainya.&lt;br /&gt;• Rasa ingin tahu yang besar dan tertarik di dalam penilaian mutu kerja serta meluangkan waktu secara periodik bagi penilaian sifat-sifat organoleptik yang diujikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;5) Panel Konsumen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panel konsumen dapat dikategorikan sebagai panelis tidak terlatih yang dipilih secara acak dari total potensi konsumen di suatu daerah pemasaran. Dalam hal ini, jumlah panel yang diperlukan cukup besar (sekitar 100 orang) dan juga perlu memenuhi kriteria seperti usia, jenis kelamin, suku bangsa dan tingkat pendapatan dari populasi pada daerah target pemasaran yang dituju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panel konsumen umumnya sudah ditangani oleh konsultan ahli pemasaran, karena mereka ini telah mengetahui perilaku konsumen dan fenomena pasar&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/323191937197769501-6823039884954582302?l=faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com/feeds/6823039884954582302/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com/2009/12/persiapan-ruang-sampel-dan-panelis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/323191937197769501/posts/default/6823039884954582302'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/323191937197769501/posts/default/6823039884954582302'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com/2009/12/persiapan-ruang-sampel-dan-panelis.html' title='PERSIAPAN RUANG, SAMPEL, DAN PANELIS DALAM PENGUJIAN ORGANOLEPTIK'/><author><name>faulampung</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_Cjw3gNDtzIs/SqR3soMJJFI/AAAAAAAAAAs/gZeQB16CqFs/S220/fau+di+lantai+1+polije+office3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-323191937197769501.post-6004332641921938590</id><published>2009-11-29T19:04:00.000-08:00</published><updated>2009-11-29T19:06:44.042-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='organoleptic test'/><title type='text'>pengujian organoleptik</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;UJI ORGANOLEPTIK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uji organoleptik didasarkan pada kegiatan penguji-penguji rasa (panelis) yang pekerjaannya mengamati, menguji, dan menilai secara organoleptik. Sensoris berasal dari kata “sense” yang berarti timbulnya rasa, dan timbulnya rasa selalu dihubungkan dengan panca indera. Leptis berarti menangkap atau menerima. Jadi pengujian sensoris atau organoleptik mempunyai pengertian dasar melakukan suatu kejadian yang melibatkan pengumpulan data-data, keterangan-keterangan atau catatan mekanis dengan tubuh jasmani sebagai penerima.&lt;br /&gt;Pengujian secara sensoris/organoleptik dilakukan dengan sensasi dari rasa, bau/ aroma, penglihatan, sentuhan/rabaan, dan suara/pendengaran pada saat makanan dimakan. Sebagai contoh rasa enak adalah hasil dari sejumlah faktor pengamatan yang masing-masing mempunyai sifat tersendiri. Contoh keterlibatan panca indera dalam uji organoleptik, yaitu:&lt;br /&gt;1. Rasa (“taste”) dengan 4 dasar sifat rasa, yaitu manis, asam, asin dan pahit.&lt;br /&gt;2. Tekstur (“konsistensi”) adalah hasil pengamatan yang berupa sifat lunak, liat, keras, halus, kasar, dan sebagainya.&lt;br /&gt;3. Bau (“odour”) dengan berbagai sifat seperti harum, amis, apek, busuk, dan sebagainya.&lt;br /&gt;4. Warna merupakan hasil pengamatan dengan penglihatan yang dapat membedakan antara satu warna dengan warna lainnya, cerah, buram, bening, dan sebagainya.&lt;br /&gt;5. Suara merupakan hasil pengamatan dengan indera pendengaran yang akan membedakan antara kerenyahan (dengan cara mematahkan sampel), melempem, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uji organoleptik merupakan pengujian secara subjektif, yaitu suatu pengujian penerimaan selera makanan (“acceptance”) yang didasarkan atas uji kegemaran (“perference”) dan analisis pembedaan (“difference analysis”), sehingga dapat digolongkan menjadi:&lt;br /&gt;1. Psikofisik    : Uji perbedaan&lt;br /&gt;2. Psikometrik: Uji kegemaran, Uji penilaian dengan angka, Uji ahli penguji rasa&lt;br /&gt;3. Deskripsi denomena: Uji profil rasa&lt;br /&gt;Untuk menilai atau menguji secara organoleptik diperlukan:&lt;br /&gt;1. Lingkungan suasana tenang dan bersih&lt;br /&gt;2. Peralatan yang bebas bau&lt;br /&gt;3. Bahan contoh yang tepat&lt;br /&gt;4. Standar bahan contoh&lt;br /&gt;5. Para panelis baik yang terlatih maupun umum&lt;br /&gt;6. Metode pengujian&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/323191937197769501-6004332641921938590?l=faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com/feeds/6004332641921938590/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com/2009/11/pengujian-organoleptik.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/323191937197769501/posts/default/6004332641921938590'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/323191937197769501/posts/default/6004332641921938590'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com/2009/11/pengujian-organoleptik.html' title='pengujian organoleptik'/><author><name>faulampung</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_Cjw3gNDtzIs/SqR3soMJJFI/AAAAAAAAAAs/gZeQB16CqFs/S220/fau+di+lantai+1+polije+office3.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-323191937197769501.post-9093631020861372595</id><published>2009-11-23T17:38:00.000-08:00</published><updated>2009-11-23T17:41:31.895-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='buah dan sayur'/><title type='text'>laporan praktikum pengujian mutu buah dan sayur</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;LAPORAN PRAKTIKUM&lt;br /&gt;PENGUJIAN MUTU BUAH DAN SAYUR&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama    : Fauziah&lt;br /&gt;NIM   : K4207111&lt;br /&gt;Mata kuliah  : spektrofotometri&lt;br /&gt;Semester  : V&lt;br /&gt;Tanggal praktikum : Agustus 2009&lt;br /&gt;Tanggal laporan : Agustus 2009&lt;br /&gt;Dosen   : ir. Hefni, M.Si&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENDIDIKAN DIPLOMA-IV VEDCA&lt;br /&gt;JOINT PROGRAM POLITEKNIK NEGERI JEMBER&lt;br /&gt;PUSAT PENGEMBANGAN PEMBERDAYAAN PENIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN PERTANIAN&lt;br /&gt;CIANJUR&lt;br /&gt;2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PENGUJIAN MUTU BUAH DAN SAYUR&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. TUJUAN&lt;br /&gt;Menentukan mutu buah dan sayur  secara kimia dan organoleptik&lt;br /&gt;2. PRINSIP&lt;br /&gt;• Prinsip penentuan kadar vitamin C&lt;br /&gt;Oksidasi analat oleh I2  sehingga I2 tereduksi menjadi ion iodide (I-).&lt;br /&gt;• Prinsip penentuan derajat keasaman&lt;br /&gt;Penetralan larutan sampel yang mengandung asam dengan titrasi menggunakan basa (NaOH)&lt;br /&gt;• Prinsip pengujian organoleptik&lt;br /&gt;Uji organoleptik dilakukan dengan menggunakan panca indra melalui pengamatan dan penciuman terhadap sifat-sifat fisik buah dan sayur&lt;br /&gt;3. TINJAUAN PUSTAKA&lt;br /&gt;A. Buah dan sayur&lt;br /&gt;• Apel &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Buah apel kaya akan kandungan vitamin dan mineral. Buah ini mudah didapatkan karena dijual di berbagai tempat penjualan buah. Berbagai jenis dan warna buah apel ada di mana-mana. Apel banyak disukai karena rasanya yang khas. Berdasarkan penelitian, makan buah apel setiap hari akan terhindar dari penyakit. Apel memiliki banyak khasiat yang bermanfaat bagi tubuh. Apel memiliki kandungan vitamin A, B1, B2, B3, B5, B6, B9 dan vitamin C. Apel kaya dengan mineral antara lain kalsium, magnesium, potesium, zat besi dan zinc (http://herbalupdate.blogspot.com).&lt;br /&gt;• Kentang&lt;br /&gt;Tanaman kentang (Solanum tuberosum Linn.) berasal dari daerah subtropika, yaitu dataran tinggi Andes Amerika Utara. Daerah yang cocok untuk budi daya kentang adalah dataran tinggi atau pegunungan dengan ketinggian 1.000-1.300 meter di atas permukaan laut, curah hujan 1.500 mm per tahun, suhu rata-rata harian 18-21oC, serta kelembaban udara 80-90 persen. Kentang memiliki kadar air cukup tinggi, yaitu sekitar 80 persen. Itulah yang menyebabkan kentang segar mudah rusak, sehingga harus disimpan dan ditangani dengan baik. Pengolahan kentang menjadi kerupuk, tepung, dan pati, merupakan upaya untuk memperpanjang daya guna umbi tersebut (http://herbalupdate.blogspot.com).&lt;br /&gt;• Pisang&lt;br /&gt;Pisang (Musa paradisiaca) ternyata telah menjadi bagian dari diet manusia&lt;br /&gt;sejak ratusan tahun silam. Penelitian fosil di Papua Nugini menunjukkan&lt;br /&gt;adanya domestikasi dan budidaya tanaman ini lebih dari 10.000 tahun lalu.&lt;br /&gt;Seluruh bagian tanaman ini dimanfaatkan, mulai dari akar untuk obat-obatan,&lt;br /&gt;batang untuk rakit dan tali-temali, daun untuk pembungkus, dan tentu saja&lt;br /&gt;buahnya untuk dimakan. &lt;br /&gt;Selain kandungan karbohidrat yang tinggi, pisang juga kaya akan vitamin (A,&lt;br /&gt;B1,B2,B6 dan C), serta mineral (potasium dan sodium) dengan kadar lemak&lt;br /&gt;rendah. Karena rendah kadar lemaknya, pisang merupakan buah yang banyak&lt;br /&gt;disarankan bagi orang tua (http://herbalupdate.blogspot.com).&lt;br /&gt;• Kubis&lt;br /&gt;Kubis atau kol untuk pengobatan herbal kanker tumor atau dalam bahasa sundanya engkol ternyata banyak mengandung vitamin C, serat kasar dan indolum untuk pengobatan tradisional kanker herbal. Baik indolum ataupun serat kasarnya ternyata dapat mencegah dan berguna untuk pengobatan kanker payudara dan pengobatan herbal kanker usus serta kanker tradisional. Zat indolum untuk pengobatan herbal kanker tradisional yang ada pada kubis yang ternyata dapat menjadi pengobatan kanker tradisional, walaupun pola konsumsi kubis herbal kanker memerlukan penentuan kadar yang tepat (http://herbalupdate.blogspot.com).&lt;br /&gt;B. Derajat keasaman&lt;br /&gt;Derajat kelarutan asam (atau derajat disosiasi asam, dilambangkan dengan pKa) dalam kimia digunakan sebagai ukuran kelarutan suatu asam (atau basa) dalam pelarut air dengan kondisi standar (1 atm dan 25°C). Nilai pKa didefinisikan sebagai "minus logaritma terhadap konsentrasi ion H+ dalam larutan". Definisi ini menyebabkan konsentrasi yang lebih tinggi memberikan nilai yang lebih rendah.&lt;br /&gt;Ukuran kelarutan diukur dari banyaknya ion H+ (dalam mol per liter larutan atau molar) terlarut. Air murni memiliki rumus kesetimbangan kelarutan:&lt;br /&gt;H2O &lt;==&gt; H+ + OH-. (www.wikipedia.co.id)&lt;br /&gt;C. Vitamin C&lt;br /&gt;Vitamin C atau asam askorbat mempunyai berat molekul 178 dengan rumus molekul C6H806.  Dalam bentuk Kristal tidak berwarna, titik cair 190-1920C.bersifat larut dalam air sedikit larut dalam aseton atau alcohol yang mempunyai berat molukul rendah. Vitamin C sukar larut dalam kloroform, ether  dan benzene. Vitamin C dengan logam akan membentuk garam. Sifat asam ditentukan oleh ionisasi enolgroup  pada atom C nomor 3. Pada pH rendah vitamin C lebih stabil daripada pH tinggi. Vitamin C mudah teroksidasi lebih-lebih apabila terdapat katalisator  Fe, Cu, enzim askorbat oksidase, sinar dan temperature yang tinggi. Larutan encer vitamin C pada pH kurang dari 7,5 masih stabil apabila tidak ada katalisator seperti diatas. Oksidasi vitamin C akan terbentuk asam dehidroasam askorbat (Sudarmadji, 2003). &lt;br /&gt;D. Uji organoleptik&lt;br /&gt;Uji organoleptik didasarkan pada kegiatan penguji-penguji rasa (panelis) yang pekerjaannya mengamati, menguji, dan menilai secara organoleptik. Sensoris berasal dari kata “sense” yang berarti timbulnya rasa, dan timbulnya rasa selalu dihubungkan dengan panca indera. Leptis berarti menangkap atau menerima. Jadi pengujian sensoris atau organoleptik mempunyai pengertian dasar melakukan suatu kejadian yang melibatkan pengumpulan data-data, keterangan-keterangan atau catatan mekanis dengan tubuh jasmani sebagai penerima (Noni dan Lily, 2008).&lt;br /&gt;4. ALAT DAN BAHAN&lt;br /&gt;A. ALAT&lt;br /&gt; Neraca&lt;br /&gt; Pipet tetes&lt;br /&gt; Labu ukur 100 mL&lt;br /&gt; Pipet ukur 25 mL&lt;br /&gt; Buret&lt;br /&gt; Beaker glass 100 mL dan 50 mL 1 buah&lt;br /&gt; Hand refraktometer&lt;br /&gt; Botol semprot&lt;br /&gt; Pipet filler&lt;br /&gt;B. BAHAN&lt;br /&gt; Sampel: apel, pisang, kubis dan kentang&lt;br /&gt; Larutan iod 0,01 N&lt;br /&gt; Aquadest&lt;br /&gt; NaOH 0,1 N&lt;br /&gt; Indikator PP&lt;br /&gt; Larutan amilum 1%&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. PROSEDUR KERJA&lt;br /&gt;A. Prosedur kerja penentuan kadar vitamin C&lt;br /&gt;  Menyiapkan alat dan bahan.&lt;br /&gt;  Menimbang sebanyak 5 g sari buah kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL  lalu mengencerkannya sampai tanda tera&lt;br /&gt;  Melakukan pengocokan hingga homogen&lt;br /&gt;  Memipet 25 mL larutan sampel diatas kemudian memasukkannya dalam Erlenmeyer.&lt;br /&gt;  Menambahkan 1 mL indikator amilum 1% lalu titrasi dengan larutan iod 0,01 N sehingga berubah dari tidak berwarna menjadi biru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Prosedur kerja penentuan derajat keasaaman&lt;br /&gt;  Menyiapkan alat an bahan&lt;br /&gt;  Menimbang 10 g contoh kemudian melarutkan dalam air suling 50 mL&lt;br /&gt;  Menambahkan 5 tetes indikator PP&lt;br /&gt;  Melakukan titrasi dengan NaOH 0,1 N sampai terjadi perubahan warna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. DATA HASIL PENGAMATAN&lt;br /&gt;Jenis sampel   : buah-buahan dan sayur-sayuran&lt;br /&gt;Jenis pengujian   : vitamin C, derajat keasamaan dan uji organoleptik&lt;br /&gt;Metode  : vitamin C secara iodometri dan derajat keasamaan secara asidi-alkalimetri&lt;br /&gt;A. DATA HASIL UJI VITAMIN C&lt;br /&gt;No  sampel g sampel N iod mL iod % vitamin C Rata-rata&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;2 Pisang&lt;br /&gt;pisang 5,087&lt;br /&gt;5,087 0,01&lt;br /&gt;0,01 4,7&lt;br /&gt;4,8 0,325&lt;br /&gt;0,332 0,329&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;4 Apel&lt;br /&gt;apel 5,033&lt;br /&gt;5,033 0,01&lt;br /&gt;0,01 3,9&lt;br /&gt;3,7 0,2727&lt;br /&gt;0,2587 0,2657&lt;br /&gt;5&lt;br /&gt;6 Kubis&lt;br /&gt;kubis 5,110&lt;br /&gt;5,110 0,01&lt;br /&gt;0,01 4&lt;br /&gt;4,1 0,2755&lt;br /&gt;0,2824 0,2789&lt;br /&gt;7&lt;br /&gt;8 Kentang&lt;br /&gt;kentang 5,058&lt;br /&gt;5,058 0,01&lt;br /&gt;0,01 2,2&lt;br /&gt;2 0,15&lt;br /&gt;0,14 0,145&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. DATAA HASIL UJI DERAJAT KEASAMAN&lt;br /&gt;No  sampel g sampel N NaOH mL NaOH % der.asam Rata-rata&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;2 Pisang&lt;br /&gt;pisang 10,060&lt;br /&gt;10,041 0,1&lt;br /&gt;0,1 3,1&lt;br /&gt;3,6 3,0815&lt;br /&gt;3,5853 3,3334&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;4 Apel&lt;br /&gt;apel 10,053&lt;br /&gt;10,018 0,1&lt;br /&gt;0,1 0,5&lt;br /&gt;0,5 0,4974&lt;br /&gt;0,4991 0,4982&lt;br /&gt;5&lt;br /&gt;6 Kubis&lt;br /&gt;kubis 10,017&lt;br /&gt;10,017 0,1&lt;br /&gt;0,1 2,1&lt;br /&gt;2,2 2,0964&lt;br /&gt;2,1962 2,1463&lt;br /&gt;7&lt;br /&gt;8 Kentang&lt;br /&gt;kentang 10,048&lt;br /&gt;10,258 0,1&lt;br /&gt;0,1 5,7&lt;br /&gt;4,9 5,68&lt;br /&gt;4,78 5,23&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. DATA HASIL UJI ORGANOLEPTIK &lt;br /&gt;No  sampel rasa aroma warna&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;2 Pisang&lt;br /&gt;pisang manis Wangi khas pisang putih kekuningan, kulit kuning&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;4 Apel&lt;br /&gt;apel manis Aroma khas apel Hijau&lt;br /&gt;5&lt;br /&gt;6 Kubis&lt;br /&gt;kubis Khas kubis segar Khas kubis, tidak menyengat Putih kehijauan&lt;br /&gt;7&lt;br /&gt;8 Kentang&lt;br /&gt;kentang Rasa kentang mentah Khas kentang kecoklatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. PEMBAHASAN&lt;br /&gt;Praktikum ini bertujuan untuk menetapkan kadar vitamin C dan derajat keasaman pada beberapa buah-buahan dan sayur-sayuran. Kadar vitamin C ditetapkan berdasarkan prinsip reduksi oksidasi yaitu dengan menggunakan titrasi iodimetri atau titrasi langsung. Dalam hal ini I2 atau iod adalah sebagai titrant. Prinsip titrasi ini adalah analat atau contoh dioksidasi oleh I2 sehingga I2 tereduksi menjadi ion iodida. I2 merupakan oksidator yang tidak terlalu kuat sehingga hanya zat-zat yang merupakan reduktor yang cukup kuat yang dapat dititrasi. Indicator yang digunakan adalah amilum dengan perubahan warna dari tak berwarna menjadi biru.&lt;br /&gt;Iod sebagai zat padat skar larut dalam air tetapi sangat mudah larut dalam larutan KI karena membentuk I3- sebagai berikut:&lt;br /&gt;I2 + I-  I3-&lt;br /&gt;Larutan iod dibuat dengan KI sebagai pelarut. Larutan iod ini bersifat tidak stabil sehingga perlu distandarisasi berulangkali terutama apabila akan dipakai sebagai titrant.  Ketidakstabilan larutan iod disebabkan oleh penguapan iod, reaksi iod dengan karet, gabus dan bahan organic lain yang mungkin masuk dalam larutan lewat debu dan asap, serta disebabkan oleh oksidasi olleh udara pada pH rendah. Oksidasi ini dipercepat oeh cahaya dan panas. Maka hendaknya larutan ini disimpan pada tempat yang sejuk dengan botol berwarna gelap. Selain itu juga harus dihindarkan kontak dengan bahan organic maupun gas mereduksi seperti SO2 dan H2S.  Bahan baku primer yang digunakan untuk menstandarisasi iod adalah Na2S2O3 dan As2O3.&lt;br /&gt;Penetapan kadar vitamin C dilakukan dengan terlebih dahulu melakukan preparasi sampel. Preparasi sampel dilakukan dengan cara menghaluskan sampel dengan menggunakan mortar atau pada sampel yang tidak dapat dihaluskan dengan mortar dapat menggunakan alternatif lain yaitu memarutnya. Selanjutnya menimbang 5 g sampel yang telah dihaluskan lalu memasukkannya dalam labu ukur 100 mL. encerkan dengan aquadest sampai tanda tera. Tujuan dari pengenceran ini adalah untuk mendapatkan konsentrasi analat yang sekecil mungkin. Dalam 5 g sampel buah atau sayur dimungkinkan terdapat banyak vitamin C dalam jumlah pekat sehingga perlu diencerkan lebih dahulu. Kocok agar larutan homogen. Pipet sebanyak 5 mL larutan sampel kedalam Erlenmeyer. Tambahkan 1 mL indikator amilum 1%  kemudian dititrasi dengan larutan iodium 0,01 N.&lt;br /&gt;Reaksi yang terjadi didalam penetapan kadar vitamin C yaitu:&lt;br /&gt;       O            O&lt;br /&gt;C      C&lt;br /&gt;C OH  + I2       C C  + 2 H+ + 2 I-&lt;br /&gt;C OH     C O&lt;br /&gt;H C     H C&lt;br /&gt;HO C H    HO C H&lt;br /&gt;H C H     CH2OH&lt;br /&gt;OH&lt;br /&gt;    Asam askorbat&lt;br /&gt;Data yang diperoleh dihitung dengan rumus:&lt;br /&gt;% vitamin C  = Fp * mL titrasi * N I2 * 88 * 100%&lt;br /&gt;        Mg sampel&lt;br /&gt;Keterangan: &lt;br /&gt;FP adalah faktor pengenceran, dalam hal ini adalah 100/25=4.&lt;br /&gt;N iod adalah normalitas iodium atau I2 setelah dilakukan standarisasi.&lt;br /&gt;88 adalah berat molekul asam askorbat.&lt;br /&gt;Setelah dilakukan uji vitamin C, didapatkan data bahwa berat sampel (misalnya pisang) adalah 5,087 g, mL titrasi iod adalah 4,7 dan 4,8 mL dengan normalitas I2 0,01 N dan faktor pengenceran 4, kadar vitamin C dapat dihitung:&lt;br /&gt;% vitamin C  = 4,7 * 4 * 0,01 * 88 *  100%&lt;br /&gt;      5087&lt;br /&gt;   = 0,325 %&lt;br /&gt;% vitamin C  = 4,8 * 4 * 0,01 * 88 *  100%&lt;br /&gt;      5087&lt;br /&gt;   = 0,332%&lt;br /&gt;Sehingga apabila dirata-ratakan kadar vitamin C menjadi  0,0,329%. Pada sampell yang lain pun dilakukan perhitungan seperti diatas.&lt;br /&gt;Seperti yang dicantumkan dalam data pengamatan bahwa kadar vitamin C pisang 0,329%, kadar vitamin C apel 0,2657%, kadar vitamin C kubis 0,2789% dan kadar vitamin C kentang 0,145%. &lt;br /&gt;Vitamin C merupakan vitamin yang diperlukan oleh tubuh untuk meningkatkan system imunitas tubuh serta berfungsi sebagai antioksidan yang dapat menangkall senyawa radikal bebas penyebab penuaan serta munculnya sel-sel kanker.. Kebutuhan vitamin C yang tercukupi dapat menurunkan resiko terkena flu. Vitamin C mudah larut dalam air sehingga apabila terjadi kelebihan vitamin C akan dibuang melalui urin. Kebutuhan vitamin C setiap orang berbeda-beda tergantung pada daya tahan tubuhnya masing-masing. &lt;br /&gt;Kekurangan vitamin ini dapat menyebabkan gusi berdarah, sariawan, nyeri otot atau gangguan syaraf. Kekurangan lebih lanjut mengakibatkan anemia, sering mengalami infeksi dan kulit kasar. Sementara kelebihan vitamin C dapat menyebabkan diare. Bila kelebihan vitamin C akibat penggunaan suplemen dalam waktu yang cukup lama dapat mengakibatkan batu ginjal, sedangkan bila kelebihan vitamin C yang berasal dari buah-buahan umumnya tidak menimbulkan efek samping.&lt;br /&gt;Makanan yang mengandung vitamin C umumnya adalah buah-buahan dan sayuran. Buah yang mengandung vitamin C tidak selalu berwarna kuning, misalnya pada jambu biji yang merupakan buah dengan kandungan vitamin C paling tinggi yang dapat kita konsumsi. Bahkan, pada beberapa buah, kulitnya mengandung vitamin C lebih tinggi daripada buahnya. Misalnya pada kulit buah apel dan jeruk walaupun tidak semua kulit buah bisa dimakan.&lt;br /&gt;a. pisang&lt;br /&gt;Buah pisang mempunyai kandungan karbohidrat yang tinggi. Selain itu pisang juga kaya akan vitamin (A,B1,B2,B6 dan C), serta mineral (potasium dan sodium) dengan kadar lemak rendah. Selain cocok untuk diet rendah lemak, buah ini baik pula untuk mereka yang mengalami masalah pencernaan seperti peptik ulkus, in coelioe disesse, dan in colitis. Beberapa komponen penting dalam pisang bersifat sebagai&lt;br /&gt;angiotensin- converting enzyme (ACE) inhibitors. Enzim ini mengatur pelepasan&lt;br /&gt;angiotensin- 2 yang merupakan substansi penyebab meningkatnya tekanan darah&lt;br /&gt;melalui konstraksi pembuluh darah.&lt;br /&gt;Tekanan darah dalam tubuh pun dapat dikontrol melalui kalium yang terkandung&lt;br /&gt;pada pisang. Per 100 g pisang matang tersimpan 400 mg kalium. Kalium&lt;br /&gt;merupakan salah satu mineral yang dapat membantu menurunkan tekanan darah.&lt;br /&gt;Begitu juga dengan magnesium yang selain dapat membantu menurunkan tekanan&lt;br /&gt;darah juga mencegah denyut jantung tidak teratur. Sementara itu kromium&lt;br /&gt;dalam pisang merupakan suatu mikronutrisi untuk mendorong aktivitas enzim&lt;br /&gt;dalam metabolisme glukosa untuk energi dan sintesis asam lemak dan&lt;br /&gt;kolesterol. Daging buah pisang sangat lembut serta mengandung lemak dan minyak sehingga menjadikan buah ini mudah dicerna tanpa menimbulkan banyak masalah. Baik pisang mentah maupun pisang matang apabila kulitnya di kupas akan terjadi browning atau pencoklatan. Pencoklatan ini disebabkan oleh enzim poliphenol atau phenolase. &lt;br /&gt;b. Apel&lt;br /&gt;Buah apel selain dimakan langsng juga baik dikonsumsi dalam bentuk jus karena kandungan vitamin dan gizinya yang tinggi. Satu gelas jus apel mengandung 22mg fosfor, 15mg kalsium, 15mg zat besi, 250mg potasium, 15mg sodium, sedikit Vitamin B kompleks, 2mg Vitamin C, dan 20 I.U. Vitamin A per 100 gram jus apel.&lt;br /&gt;Manfaat jus apel bagi kesehatan adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Menurunkan kolesterol dan tekanan darah. &lt;br /&gt;2. Meningkatkan HDL atau high density lipoprotein. &lt;br /&gt;3. Menstabilkan gula darah. &lt;br /&gt;4. Memperlancar pencernaan. &lt;br /&gt;5. Memperkuat jantung dan sebagai agen antikanker. &lt;br /&gt;6. Mengurangi nafsu makan. &lt;br /&gt;7. Membantu menurunkan berat badan. &lt;br /&gt;8. Memperkuat ginjal.&lt;br /&gt;Khasiat apel terletak pada kandungan karoten dan pektinnya yang merupakan serat yang larut dalam air. Pektin berperan menurunkan kadar kolesterol jahat atau LDL yang dapat menyumbat pembuluh darah. Pada saat yang sama, pektin juga menaikkan kadar kolesterol baik atau HDL. Semakin tinggi tingkat HDL seseorang, semakin rendah orang tersebut beresiko terkena penyakit jantung. Kerja pektin yang terdapat dalam jus apel sangat cepat. Karena itu, begitu selesai meminum jus apel, proses pembuangan lemak langsung dimulai.&lt;br /&gt;Jika sudah berada di dalam tubuh, pektin yang terkandung dalam apel akan mengikat air secara kuat. Kemudian pektin menyerap substansi air itu dan menggunakannya untuk membebaskan sel dari gumpalan-gumpalan lemak. Pektin merupakan salah satu tipe serat kasar yang mempunyai beberapa keuntungan karena bentuknya yang menyerupai gel. Selain itu pektin juga dapat membantu memperbaiki otot pencernaan dan mendorong sisa makanan pada saluran pembuangan. Pektin juga terkandung dalam obat antidiare Kaopectate. Karena itu pektin juga berkhasiat untuk menghilangkan diare. Pektin juga dapat menyerap air berlebih dalam usus, memperlunak feses, mengikat dan menghilangkan racun dan membasmi kuman dalam perut dan usus. Jus apel juga dapat meringankan radang sendi dan arthritis. &lt;br /&gt;Sama halnya dengan buah pisang, apel juga mudah sekali mengalami browning enzimatis yaitu browning yang disebabkan oleh enzim. Enzim yang berperan adalah phenolase atau poliphenol. Ketika apel dikupas atau di belah maka enzim phenolase yang terdapat didalam buah apel akan bereaksi dengan udara menghasilkan senyawa yang berwarna coklat. Untuk mencegah terjadinya browning dapat dilakukan dengan merendamnya dengan air atau larutan vitamin C atau larutan yang berPH asam. Hal ini disebabkan enzim tidak tahan pada kadar asam. Terjadinya browning tidak mengurangi rasa pada apel namun penampakannya menjadi tidak indah.&lt;br /&gt;c. Kubis&lt;br /&gt;Kubis atau kol baik indolum ataupun serat kasarnya dapat mencegah dan berguna untuk pengobatan kanker payudara dan pengobatan herbal kanker usus serta kanker tradisional. Zat indolum untuk pengobatan tradisional herbal kanker bila dikonsumsi sesuai takaran dapat menjadi pengobatan herbal kanker, tetapi bila dikonsumsi dalam jumlah yang tidak terbatas dapat menimbulkan efek negatif. Hal ini disebabkan oleh timbulnya gas asam karbonat, hasil dari fermentasi kubis yang tidak dapat keluar dari perut. &lt;br /&gt;Asam karbonat bersama dengan indolum akan menimbulkan sakit pada lambung. Selain fungsinya untuk menjadi pengobatan kanker tradisional dan kanker usus serta kanker tumor, jus kubis mentah yang diminum setengah gelas perhari dapat meredakan nyeri pada maag, sebagai pengobatan tumor tradisional dan kanker herbal karena vitamin U dan klorofil yang masih utuh. Vitamin U-nya meredam nyeri sedangkan klorofil (yang susunan molekulnya mirip darah merah manusia) mendorong pertumbuhan sel dan jaringan baru pada luka tukak lambung.&lt;br /&gt;d. Kentang&lt;br /&gt;Kalium yang dikandungnya juga bisa mencegah hipertensi. Lebih dari itu, kentang dapat dibuat minuman yang berkhasiat untuk mengurangi gangguan saat haid. Bagian utama kentang yang menjadi bahan makanan adalah umbi, yang merupakan sumber karbohidrat, mengandung vitamin dan mineral cukup tinggi. Kentang memiliki kadar air cukup tinggi, yaitu sekitar 80 persen. Itulah yang menyebabkan kentang segar mudah rusak, sehingga harus disimpan dan ditangani dengan baik.&lt;br /&gt;Pengolahan kentang menjadi kerupuk, tepung, dan pati, merupakan upaya untuk memperpanjang daya guna umbi tersebut. Pati kentang mengandung amilosa dan amilopektin dengan perbandingan 1:3. Dari tepung dan pati kentang, selanjutnya dihasilkan berbagai produk pangan olahan dengan beragam citarasa yang enak dan penampilan menarik. Kentang merupakan satu-satunya jenis umbi yang kaya vitamin C, kadarnya mencapai 31 miligram per 100 gram bagian kentang yang dapat dimakan. Umbi-umbian lainnya sangat miskin akan vitamin C. Kebutuhan vitamin C dalam sehari 60 mg, untuk memenuhinya cukup dengan 200 gram kentang. Kadar vitamin lain yang cukup menonjol adalah niasin dan B1 (tiamin). Dengan mengkonsumsi sebuah umbi kentang yang berukuran sedang, sepertiga kebutuhan vitamin C (33 persen) telah tercapai. Demikian juga halnya dengan sebagian besar kebutuhan akan vitamin B dan zat besi.&lt;br /&gt;Selain vitamin C, pada buah dan sayur diatas juga dilakukan uji derajat keasaman yang bertujuan untuk mengetahui derajat asam pada buah pisang. Uji ini dilakukan dengan menimbang pisang yang telah dihaluskan sebanyak 10 g kemudian melarutkannya dengan air suling 50 mL. hal ini disebabkan sampel akan dilakukan titrasi sehingga harus dalam bentk larutan. Tambahkan 5 tetes indikator PP atau phenol ptalein yang berfungsi sebagai indikator yang dapat menunjukkan titik akhir titrasi atau titik ekivalen dengan berdasarkan perubahan pH sehingga akan terjadi perubahan warna. Banyaknya asam didalam sampel akan dinetralkan dengan NaOH sehingga derajat asam akan dapat dihitung. Penambahan basa (OH-) tetes demi tetes akan menetralkan asam dalam sampel.&lt;br /&gt;Pada data pengamatan tertulis bahwa derajat asam dalam pisang 3,3334%, derajat asam apel 0,4982%, derajat asam kubis 2,1463% dan derajat asam kentang 5,23. Karena derajat asam menunjukkan banyaknya asam didalam sampel, maka dari sampel-sampel di atas apel merupakan buah yang banyak kadar asamnya diantara komoditi di atas; sedangkan kentang merupakan umbi yang tidak begitu asam dan bahkan mendekati netral (5,23). &lt;br /&gt;Adapun contoh perhitungan derajat asam: (misalnya pada pisang)&lt;br /&gt;Derajat asam 1  : (mL titrasi x Normalitas NaOH x 100%) / g bahan&lt;br /&gt;   : (3,1 x 0,1 x 100%) / 10,060 = 3,0815%&lt;br /&gt;Derajat asam 2 : (6 x 0,1 x 100%) / 10,041 = 3,5853%&lt;br /&gt;Sehingga rata-ratanya menjadi 3,3334%.&lt;br /&gt;Pengujian secara fisik yang dilakukan terhadap buah dan sayur diatas yaitu uji organoleptik. Uji organoleptik pada pisang menunjukkan bahwa pisang berkualitas baik karena memiliki bau wangi yang khas pisang dengan kulit berwarna kuning serta warna pisang putih kekuningan. Ketika dilakukan pencicipan pun pisang benar-benar matang didalam seluruhnya. Pisang juga mempunyai tekstur yang empuk.&lt;br /&gt;Uji organoleptik yang dilakukan terhadap apel menunjukkan bahwa apel memiliki rasa yang manis dengan warna kulit hijau dan warna daging buah putih. Aromanya pun khas apel. Apel ini terasa segar ketika dimakan karena banyak mengandung air. Teksturnya pun renyah dan tidak alot. Apel memiliki kualitas yan baik. &lt;br /&gt;uji organoleptik menunjukkan bahwa kubis memiliki rasa yang segar dengan sedikit getir karena mentah. Warnanya putih kekuningan dengan aroma yang khas. Sedangkan kentang memiliki rasa yang khas kentang mentah, aroma yang khas dengan warna kuning kecoklatan. Kentang terlihat segar karena banyak mengandung air. Kentang ini memiliki mutu yang baik hanya saja ukurannya kurang besar. &lt;br /&gt;8. KESIMPULAN&lt;br /&gt;Setelah melakukan kegiatan praktikum dapat disimpulkan bahwa :&lt;br /&gt;  Kadar vitamin C pisang 0,329%, apel 0,2657%, kubis 2789% dan kentang 0,145%&lt;br /&gt;  Derajat asam pada pisang 3,3334%, apel 0,4982, kubis 2,1463% dan kentang 5,23%&lt;br /&gt;  Buah dan sayur memiliki kualitas yang baik karena komoditi masih segar dan sifat fisiknya banyak diminati.&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;  Sudarmadji, dkk. 2003. Analisa Bahan Makanan Dan Pertanian. Yogyakarta: penerbit Liberty.&lt;br /&gt;  http://herbalupdate.blogspot.com&lt;br /&gt;  http://www.wikipedia.co.id&lt;br /&gt;  Lily dan Noni. 2008. Pengujian Secara Organoleptik. Vedca Cianjur: modul PJJ.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/323191937197769501-9093631020861372595?l=faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com/feeds/9093631020861372595/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com/2009/11/laporan-praktikum-pengujian-mutu-buah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/323191937197769501/posts/default/9093631020861372595'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/323191937197769501/posts/default/9093631020861372595'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com/2009/11/laporan-praktikum-pengujian-mutu-buah.html' title='laporan praktikum pengujian mutu buah dan sayur'/><author><name>faulampung</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_Cjw3gNDtzIs/SqR3soMJJFI/AAAAAAAAAAs/gZeQB16CqFs/S220/fau+di+lantai+1+polije+office3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-323191937197769501.post-4534799642703267424</id><published>2009-10-22T18:35:00.000-07:00</published><updated>2009-10-22T18:44:52.483-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='paracetamol_spektrofotometri'/><title type='text'>laporan praktikum pengujian paracetamol secara spektrofotometri</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;    LAPORAN PRAKTIKUM&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;   &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;PENENTUAN KADAR PARASETAMOL (C8H9NO2) DALAM SAMPEL DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Nama    : Fauziah&lt;br /&gt;NIM   : K4207111&lt;br /&gt;Mata kuliah  : spektrofotometri&lt;br /&gt;Semester  : V&lt;br /&gt;Tanggal praktikum : 4 April 2009&lt;br /&gt;Tanggal laporan : 13 April 2009&lt;br /&gt;Dosen   : An an Herliani, S. Si&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENDIDIKAN DIPLOMA-IV VEDCA&lt;br /&gt;JOINT PROGRAM POLITEKNIK NEGERI JEMBER&lt;br /&gt;PUSAT PENGEMBANGAN PEMBERDAYAAN PENIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN PERTANIAN&lt;br /&gt;CIANJUR&lt;br /&gt;2009&lt;br /&gt;PENENTUAN KADAR PARASETAMOL (C8H9NO2) DALAM SAMPEL DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI&lt;br /&gt;1. TUJUAN&lt;br /&gt;Menentukan kadar parasetamol dalam sampel dengan metode spektrofotometri&lt;br /&gt;2. PRINSIP&lt;br /&gt;Pengukuran parasetamol pada panjang gelombang maksimum yang ditentukan yaitu 244 nm, setelah larutan sampel ynag mengandung parasetamol dilakukan pengenceran.&lt;br /&gt;3. TINJAUAN PUSTAKA&lt;br /&gt;A. PARASETAMOL&lt;br /&gt;Parasetamol atau asetaminofen atau N-asetil-para-aminofenol asetominofen adalah obat analgesik and antipiretik yang populer dan digunakan untuk melegakan sakit kepala, sengal-sengal dan sakit ringan, dan demam. Digunakan dalam sebagian besar resep obat analgesik salesma dan flu. Parasetamol aman dalam dosis standar, tetapi karena mudah didapati, overdosis obat baik sengaja atau tidak sengaja sering terjadi (http://www.wikipedia.org).&lt;br /&gt;Berbeda dengan obat analgesik yang lain seperti aspirin dan ibuprofen, parasetamol tak memiliki sifat antiradang. Parasetamol tidak tergolong dalam obat jenis NSAID. Dalam dosis normal, parasetamol tidak menyakiti permukaan dalam perut atau mengganggu gumpalan darah, ginjal atau duktus arteriosus pada janin (http://www.wikipedia.org).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asetaminofen (parasetamol)&lt;br /&gt;N-acetyl-para-aminophenol&lt;br /&gt;Berat molekul&lt;br /&gt;151.17&lt;br /&gt;Rumus empiris C8H9NO2&lt;br /&gt;(Metabolisme) Hati&lt;br /&gt;Golongan hamil (farmasi)&lt;br /&gt;B (AS)&lt;br /&gt;A (Aus)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Sumber: (http://www.wikipedia.org)&lt;br /&gt;B. SPEKTROFOTOMETRI&lt;br /&gt;Spektrofotometer UV-Vis (Ultra Violet-Visible) adalah salah satu dari sekian banyak instrumen yang biasa digunakan dalam menganalisa suatu senyawa kimia. Spektrofotometer umum digunakan karena kemampuannya dalam menganalisa begitu banyak senyawa kimia serta kepraktisannya dalam hal preparasi sampel apabila dibandingkan dengan beberapa metode analisa (Herliani,2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spektrofotometri uv-vis adalah pengukuran serapan cahaya di daerah ultraviolet (200 – 350 nm) dan sinar tampak (350 – 800 nm) oleh suatu senyawa. Serapan cahaya uv atau cahaya tampak mengakibatkan transisi elektronik, yaitu promosi elektron-elektron dari orbital keadaan dasar yang berenergi rendah ke orbital keadaan tereksitasi berenergi lebih tinggi. Panjang gelombang cahaya uv atau cahaya tampak bergantung pada mudahnya promosi elektron. Molekul-molekul yang memerlukan lebih banyak energi untuk promosi elektron, akan menyerap pada panjang gelombang yang lebih pendek. Molekul yang memerlukan energi lebih sedikit akan menyerap pada panjang gelombang yang lebih panjang. Senyawa yang menyerap cahaya dalam daerah tampak (senyawa berwarna) mempunyai elektron yang lebih mudah dipromosikan dari pada senyawa yang menyerap pada panjang gelombang lebih pendek (Herliani, 2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. ALAT DAN BAHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.1. ALAT&lt;br /&gt; Spektrofotometer UV&lt;br /&gt; Batang pengaduk&lt;br /&gt; Labu ukur 50 mL &lt;br /&gt; Labu ukur 25 mL&lt;br /&gt; Labu ukur 100 mL 5 buah&lt;br /&gt; Labu ukur 250 mL 1 buah&lt;br /&gt; Pipet volum  5 mL&lt;br /&gt; Pipet volum &lt;br /&gt; Corong gelas&lt;br /&gt; Pipet filler&lt;br /&gt; Hot plate&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.2. BAHAN&lt;br /&gt; Kertas saring&lt;br /&gt; Parasetamol murni&lt;br /&gt; Tissue&lt;br /&gt; Air&lt;br /&gt; Methanol&lt;br /&gt; Aquadest&lt;br /&gt; Sampel “x”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. PROSEDUR KERJA&lt;br /&gt;5.1. Preparasi sampel&lt;br /&gt;a. Memasukkan larutan sampel ke dalam labu ukur 50 mL&lt;br /&gt;b. Mengencerkannya dengan aquadest sampai tanda tera.&lt;br /&gt;c. Mengencerkan kembali sampel apabila ternyata larutan sampel diatas masih terlalu pekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.2. Pembuatan larutan standar parasetamol&lt;br /&gt;a. Larutan A (250 ppm)&lt;br /&gt;1) Menimbang 0,0625 g parasetamol murni&lt;br /&gt;2) Melarutkannya dengan 10 mL methanol&lt;br /&gt;3) Menambahkan aquadest sampai dengan 250 mL pada labu ukur.&lt;br /&gt;b. Larutan B (50 ppm)&lt;br /&gt;1) Memipet sebanyak 50 mL larutan A kemudian mengencerkannya dengan aquadest sampai dengan 250 mL pada labu ukur.  &lt;br /&gt;c. Pembuatan larutan kalibrasi standar&lt;br /&gt;1) Mengambil sebanyak 5,0; 10,0; 15,0; 20,0; dan 25,0 larutan B kemudian memasukkannya kedalam masing-masing labu ukur 100 mL &lt;br /&gt;2) Menepatkannya sampai tanda tera.&lt;br /&gt;5.3. Pengukuran dengan spektrofotometer&lt;br /&gt;1) Mengukur masing-masing larutan standar pada λ maksimum.&lt;br /&gt;2) Mengukur larutan sampel pada λ maksimum.&lt;br /&gt;3) Mengencerkan sampel kembali apabila konsentrasinya terlalu pekat.&lt;br /&gt;4) Manghitung konsentrasi sampel dalam mg.&lt;br /&gt;5) &lt;br /&gt;3) DATA HASIL PENGAMATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis sampel    : sampel “x”&lt;br /&gt;Jenis pengujian    : parasetamol&lt;br /&gt;Metode    : spektrofotometri&lt;br /&gt;Panjang gelombang pengukuran  : 244&lt;br /&gt;a. Pengukuran kurva baku&lt;br /&gt;C (ppm) Abs. Persamaan linear&lt;br /&gt;2,5 0,2053 y: 0x2+=0,06559x+0,04004&lt;br /&gt;5,0 0,3657 r: 0,999&lt;br /&gt;7,5 0,5320 &lt;br /&gt;10,0 0,6977 &lt;br /&gt;12,5 0,8592 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Penentuan sampel&lt;br /&gt;Abs. V C penunjukan (ppm) C akhir C sebenarnya&lt;br /&gt;0,364 1250 4,9313 6,1641 6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan: &lt;br /&gt;Abs : absorbansi&lt;br /&gt;C : konsentrasi&lt;br /&gt;V  : volum larutan&lt;br /&gt;r : koefisien regresi&lt;br /&gt;Y : persamaan linearitas&lt;br /&gt;4) PEMBAHASAN&lt;br /&gt;Praktikum ini bertujuan untuk menentukan kadar parasetamol (C8H9NO2) dalam larutan sampel ‘x’ yang tidak diketahui dengan metode spektrofotometri. Prinsipnya adalah pengukuran parasetamol pada panjang gelombang maksimum yang ditentukan yaitu 244 nm, setelah larutan sampel yang mengandung parasetamol dilakukan pengenceran.&lt;br /&gt;Penentuan parasetamol dibagi menjadi beberapa tahapan. Tahapan tersebut antara lain pembuatan larutan baku, pengenceran larutan sampel, pembuatan deret standar dan pengukuran dengan spektrofotometer UV. &lt;br /&gt;Larutan standar A parasetamol dibuat dengan cara menimbang sebanyak 0,0625 g parasetamol murni kemudian melarutkannya dengan 10 mL methanol  kemudian menambahkan aquadest sampai tanda tera pada labu ukur 250 mL. larutan ini mengandung 250 ppm parasetamol. Parasetamol mempunyai kelarutan dalam 70 bagian air dan 7 bagian alkohol, sehingga pada pembuatan larutan standar dilakukan penambahan methanol yang berfungsi untuk melarutkan parasetamol bersama-sama dengan aquadest. Dari larutan A diatas dipipet sebanyak  50 mL kemudian mengencerkannya dengan aquadest sampai tanda tera pada labu ukur 250 mL sehingga konsentrasi larutan B adalah 50 ppm sesuai dengan perhitungan berikut:&lt;br /&gt;V1.N1=V2.N2&lt;br /&gt;50. 250= 250. N2, N2= 12.500/250 =50 ppm.&lt;br /&gt;Pembuatan larutan kalibrasi standar dilakukan dengan memipet sebanyak 5,0; 10,0; 15,0; 20,0; dan 25,0 larutan B kemudian masing-masing diencerkan dengan aquadest dan ditera pada labu ukur 100 mL sehingga konsentrasinya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;V1.N1=V2.N2  5.50=100.N2  N2=2,5 ppm.&lt;br /&gt;V1.N1=V2.N2  10.50=100.N2 N2=5 ppm.&lt;br /&gt;V1.N1=V2.N2  15.50=100.N2  N2=7,5 ppm.&lt;br /&gt;V1.N1=V2.N2  20.50=100.N2   N2=10 ppm.&lt;br /&gt;V1.N1=V2.N2  25.50=100.N2    N2=12,5 ppm. &lt;br /&gt;Sebanyak ± 5 mL larutan sampel “x” yang tidak diketahui dimasukkan ke dalam labu ukur 25 mL kemudian menambahkan aquadest sampai tanda tera sehingga volumnya adalah 25 mL.  &lt;br /&gt;Tahapan selanjutnya yaitu pengukuran menggunakan spektrofotometer daerah UV. Pengukuran pertama dilakukan terhadap blanko atau aquadest. Blanko adalah larutan yang mendapat perlakukan sama dengan analat tetapi tidak mengandung komponen analat. Blanko dibuat untuk mengetahui besarnya serapan yang disebabkan oleh zat yang bukan analat, baik hanya pelarut untuk melarutkan atau mengencerkan ataupun pelarut dan pereaksi tertentu yang ditambahkan. Selisih nilai serapan analat (Aa) dengan nilai serapan blanko (Ab) menunjukan serapan yang disebabkan oleh komponen alat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya dilakukan pengukuran standar tengah yaitu 7,5 ppm untuk menentukan panjang gelombang maksimum. Setelah standar tengah diukur kemudian pada penunjukan instrument terbentuk grafik yang menunjukkan bahwa panjang gelombang maksimum adalah 244 nm. Setelah itu dilakukan pengukuran deret standar untuk mengetahui kurva baku. Kurva baku yang terbentuk adalah seperti yang disajikan dalam grafik berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Regresi(r)  : 0,9999&lt;br /&gt;Slope (a)  : 0,065592&lt;br /&gt;Intercept(c)  :0,04004, bila y: ax+c maka persamaan linearnya adalah &lt;br /&gt;y : 0x2+=0,06559x+0,040&lt;br /&gt;Regresi linear (r) yaitu 0,9999 menunjukkan bahwa hasil analisis ini mempunyai ketelitian yang tinggi dan sangat presisi.&lt;br /&gt;Setelah deret standar diukur, terakhir dilakukan pengukuran sampel pada panjang gelombang maksimum. Setelah dilakukan pengukuran ternyata absorbansinya ±3,087 dan absorbansi tersebut terlalu tinggi dan tidak termasuk didalam absorbansi deret standar yang telah diukur sebelumnya (over range). Hal ini disebabkan konsentrasi sampel terlalu pekat sehingga harus dilakukan pengenceran. Untuk melakukan pengenceran harus diperhitungkan absorbansi yang telah terukur sebelumnya yaitu 3,087 agar absorbansinya termasuk dalam deret standar. Dari larutan sampel akan dilakukan pengenceran 5 kali dengan memipet sebanyak 10 mL larutan dan diencerkan dengan aqudest pada labu ukur 50 mL. Sehingga total volum larutan sampel adalah 25x5=125 mL.&lt;br /&gt; Setelah dilakukan pengukuran sampel, ternyata sampel tersebut masih terlalu pekat dan tidak termasuk dalam deret standar. Absorbansi yang ditunjukkan adalah 2,7 sehingga harus diencerkan kembali. Dengan memperhitungkan absorbansi yang ditunjukkan, yaitu 2,7 maka akan dilakukan pengenceran 10 kali sehingga perkiraan kisaran absorbansi yang akan ditunjukkan adalah 2,7/10=0,27. Bila dilakukan pengenceran 10 kali maka total volum larutan dari penngenceran awal adalah 125x10=1250 mL. Pada kisaran absorbansi 0,27 seharusnya terlalu pekat dan termasuk dalam deret standar.&lt;br /&gt;Pengukuran larutan sampel dengan spektrofotometri UV menunjukkan bahwa absorbansinya adalah 0,364 dengan konsentrasi parasetamol didalamnya 4,9313 ppm/1250 mL. Konsentrasi sampel diatas masih dalam bentuk ppm sehingga harus dikonversikan ke dalam mg : (4,9313 ppm/1000 mL).Volum larutan&lt;br /&gt;     : (4,9313/1000).1250 = 6,1641 mg parasetamol.&lt;br /&gt;Konsentrasi parasetamol dalam sampel “x” yang tidak diketahui adalah sebesar 6,1641 mg. Parasetamol atau asetaminofen dengan rumus kimia C8H9NO2 merupakan obat yang berfungsi meredakan nyeri dan penurun panas. Obat ini dapat dijumpai dalam bentuk tunggal dan berkombinasi dengan obat lain misalnya flu atau batuk. Dalam dosis normal, parasetamol tidak menyakiti permukaan dalam perut atau mengganggu gumpalan darah, ginjal atau duktus arteriosus pada janin. Overdosis penggunaan parasetamol yaitu Kadar dalam darah antara 4-10 jam setelah minum obat, yang mencapai 300 µg/ml dapat menyebabkan kerusakan hati. Parasetamol sejumlah 10-15 gram dapat menyebabkan nekrosis hepatoseluler berat dan kadang-kadang nekrosis tubuli ginjal.&lt;br /&gt; Parasetamol mengandung tidak kurang dari 98% dan tidak lebih dari 1001,0% C8H9NO2. Parasetamol mempunyai wujud berupa serbuk hablur berwarna putih tidak berbau dan mempunyai rasa yang pahit. Parasetamol larut dalam 70 bagian air dan 7 bagian etanol (95%), dalam 13 bagian aseton, dalam 40 bagian gliserol dan dalam 9 bagian propilenglikol, dan larut dalam larutan alkalihidroksida. Parasetamol diabsorpsi cepat dan sempurna melalui saluran cerna. Konsentrasi tertinggi dalam plasma dicapai dalam waktu 1/2 jam dan masa paruh plasma antara 1-3 jam. Obat ini tersebar ke sluruh cairan tubuh. Dalam plasma, 25 % parasetamol terikat oleh protein plasma. &lt;br /&gt;5) KESIMPULAN&lt;br /&gt;Kadar parasetamol dalam sampel “x” yang tidak diketahui adalah 6,1641 mg.&lt;br /&gt;6) DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Herliani, An an. 2008. Spektrofotometri. Pengendalian Mutu Agroindustri-Program D4-PJJ.&lt;br /&gt;• http://www.wikipedia.org/parasetamol&lt;br /&gt;• http://www.wartamedika.com/keracunan parasetamol&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/323191937197769501-4534799642703267424?l=faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com/feeds/4534799642703267424/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com/2009/10/laporan-praktikum-pengujian-paracetamol.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/323191937197769501/posts/default/4534799642703267424'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/323191937197769501/posts/default/4534799642703267424'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com/2009/10/laporan-praktikum-pengujian-paracetamol.html' title='laporan praktikum pengujian paracetamol secara spektrofotometri'/><author><name>faulampung</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_Cjw3gNDtzIs/SqR3soMJJFI/AAAAAAAAAAs/gZeQB16CqFs/S220/fau+di+lantai+1+polije+office3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-323191937197769501.post-3696657644684721705</id><published>2009-10-22T05:30:00.000-07:00</published><updated>2009-10-22T05:35:57.925-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SUSU'/><title type='text'>pengujian mutu susu</title><content type='html'>PENGUJIAN MUTU SUSU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. TUJUAN&lt;br /&gt;Menentukan mutu susu segar berdasarkan SNI 01-3141-1998&lt;br /&gt;B. PRINSIP&lt;br /&gt;1. Prinsip penentuan berat jenis&lt;br /&gt;Jika lactometer dicelupkan ke dalam susu yang rendah berat jenisnya maka lactometer akan tenggelam lebih dalam dibandingkan jika lactometer tersebut dicelupkan dalam susu yang berat jenisnya tinggi&lt;br /&gt;2. Prinsip penentuan derajat asam&lt;br /&gt;Reaksi penetralan, yaitu penetralan asam dalam susu (H+) oleh NaOH sehingga terbentuk H2O&lt;br /&gt;C. DASAR TEORI&lt;br /&gt;1. Susu&lt;br /&gt;Susu merupakan bahan makanan yang hampir sempurna dan merupakan makanan alamiah bagi binatang menyusui yang baru lahir, dimana susu merupakan satu-satunya sumber makanan pemberi kehidupan segera sesudah kelahiran. Susu didefinisikan sebagai sekresi dari kelenjar susu binatang mamalia. Susu adalah suatu sekresi yang komposisinya sangat berbeda dari komposisi darah yang merupakan asal susu.&lt;br /&gt;Dalam Standar Nasional Indonesia (SNI) susu segar No. 01-3141-1998 dijelaskan bahwa susu segar adalah susu murni yang tidak mendapatkan perlakuan apapun kecuali proses pendinginan dan tanpa mempengaruhi kemurniannya. Agar aman dikonsumsi dan digunakan untuk proses penanganan selanjutnya maka susu segar harus memenuhi syarat-syarat tertentu.&lt;br /&gt;Sebagai bahan pangan, susu dapat dapat digunakan dalam baik dalam bentuk aslinya sebagai suatu kesatuan, maupun dari bagian-bagiannya. Pada dasarnya semua jenis mamalia termasuk manusia, mampu menghasilkan kelenjar susu melalui kelenjar mammary. Secara umum, susu mamalia dapat dikelompokkan manjadi 2 bagian, yaitu susu kaya dan susu miskin. Susu kaya adalah susu yang mengandung kadar lemak dan protein yang tinggi, misalnya susu ikan paus, susu kelinci dan susu anjing laut. Sedangkan susu miskin adalah susu yang mengandung kadar lemak dan protein yang relative lebih rendah, misalnya susu sapi, kambing, domba, kuda, kerbau dan manusia. Perbedaan komposisi ini menunjukkan adanya perbedaan tahap perkembangan anak pada waktu kelahiran. Meskipun banyak jenis hewan yang dapat menghasilkan susu namun hanya beberapa hewan saja yang susunya dimanfaatkan untuk konsumsi manusia, yaitu sapi, kambing dan domba.&lt;br /&gt;2. Syarat Mutu Susu&lt;br /&gt;Syarat mutu susu berdasarkan SNI 01-3141-1998 adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;no Parameter Syarat&lt;br /&gt;1 2 3&lt;br /&gt;1 Susunan susu Berat jenis (Bj) pada suhu 27,50C Minimal 1,0280&lt;br /&gt;  Kadar lemak Min. 3,0 %&lt;br /&gt;  Kadar bahan kering tanpa lemak (BKTL) atau solid non fat (SNF) Min. 8,0%&lt;br /&gt;  Kadar protein Min. 2,7%&lt;br /&gt;  Cemaran logam berbahaya:&lt;br /&gt;• Timbal (Pb)&lt;br /&gt;• Seng (Zn)&lt;br /&gt;• Merkuri (Zn)&lt;br /&gt;• Arsen (As) &lt;br /&gt;Maks. 0,3 ppm&lt;br /&gt;Maks. 0,5 ppm&lt;br /&gt;Maks. 0,5 ppm&lt;br /&gt;Maks. 0,5 ppm&lt;br /&gt;2 Keadaan susu Organoleptik : warna, bau, rasa dan kekentalan Tidak ada perubahan&lt;br /&gt;  Kotoran dan benda asing Negatif&lt;br /&gt;  Cemaran mikroba:&lt;br /&gt;• Total kuman&lt;br /&gt;• Salmonella&lt;br /&gt;• Eschericia Coli (pathogen)&lt;br /&gt;• Coliform&lt;br /&gt;• Streptococcus group B&lt;br /&gt;• Staphylococcus aureus &lt;br /&gt;Maks. 1. 000.000 CFU/mL&lt;br /&gt;Negatif&lt;br /&gt;Negatif&lt;br /&gt;20 CFU/mL&lt;br /&gt;Negatif&lt;br /&gt;100 CFU/mL&lt;br /&gt;  Jumlah sel radang Maks. 40. 000/mL&lt;br /&gt;  Uji katalase Maks. 3 cc&lt;br /&gt;  Uji reduktase 2-5 jam&lt;br /&gt;  Residu antibiotika, pestisida dan insektisida Sesuai dengan peraturan yang berlaku&lt;br /&gt;  Uji alcohol 70% Negatif&lt;br /&gt;  Derajat asam 6-70SH&lt;br /&gt;  Uji pemalsuan Negatif&lt;br /&gt;  Titik beku -0,520 s/d  0,5600C&lt;br /&gt;  Uji peroksidase positif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. ALAT DAN BAHAN&lt;br /&gt;1. ALAT&lt;br /&gt;  Laktodensimeter&lt;br /&gt;  Buret&lt;br /&gt;  Beaker glass 500 mL&lt;br /&gt;  Erlenmeyer 250 mL 2 buah&lt;br /&gt;  Pipet tetes&lt;br /&gt;  Neraca&lt;br /&gt;  Thermometer&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;2. BAHAN&lt;br /&gt;  Sampel: susu segar&lt;br /&gt;  PP&lt;br /&gt;  NaOH 0,1 N&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;E. PROSEDUR KERJA&lt;br /&gt;1. Prosedur kerja penentuan berat jenis susu segar&lt;br /&gt;  menyiapkan alat dan bahan&lt;br /&gt;  melakukan penetapan berat jenis  dengan menggunakan laktodensimeter&lt;br /&gt;  menyatakan  hasilnya dengan ketelitian  0,0002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Prosedur kerja penentuan derajat asam susu&lt;br /&gt;  Menyiapkan alat dan bahan&lt;br /&gt;  Menimbang 18 g  contoh uji dalam Erlenmeyer&lt;br /&gt;  Menitrasi dengan larutan NaOH 0,1 N dengan indikator PP 0,5 mL sampai berubah warna menjadi merah muda&lt;br /&gt;  Menetapkan derajat asam (%)&lt;br /&gt;F. DATA PENGAMATAN&lt;br /&gt;1. Data berat jenis&lt;br /&gt;No  Pengukuran ke- Suhu (t0C) Skala  Berat jenis &lt;br /&gt;1 1 24 17 1,0021&lt;br /&gt;2 2 24 18 1,0022&lt;br /&gt;Perhitungan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bj  : skala pembacaan +(suhu pembacaan – suhu konversi (200C) x 0,1  +1&lt;br /&gt;      1000&lt;br /&gt;BJ sampel a :17 +(24-20) x 0,1 + 1 =1,0021&lt;br /&gt;   1000&lt;br /&gt;BJ sampel b :18 +(24-20) x 0,1 + 1 =1,0022&lt;br /&gt;   1000&lt;br /&gt;2. Data derajat asam&lt;br /&gt;no g bahan N NaOH mL NaOH % derajat asam&lt;br /&gt;1 18,12 0,1 2,7 0,134&lt;br /&gt;2 18,14 0,1 2,8 0,139&lt;br /&gt;Perhitungan:&lt;br /&gt;% derajat asam : (mL NaOH x N NaOH x 90 x 100%) /g contoh x 1000&lt;br /&gt;   Sumber : (Tien R muhtadi, Ilmu Pengetahuan Bahan Pangan)&lt;br /&gt;% derajat asam 1 : 2,7 x 0,1 x 90 x 100% = 0,134%&lt;br /&gt;   18,12 x 1000 &lt;br /&gt;% derajat asam 2 : 2,8 x 0,1 x 90 x 100% = 0,139%&lt;br /&gt;    18,14x1000&lt;br /&gt;Rata-rata  :(0,139+ 0,134) / 2  = 0,137%&lt;br /&gt;G. PEMBAHASAN&lt;br /&gt;Pengujian ini bertujuan untuk menentukan berat jenis dan menentukan % derajat asam susu. Sampelnya adalah susu segar. Penentuan berat jenis menggunakan alat laktodensimeter, sedangkan penentuan derajat asam menggunakan prinsip titrasi asam basa atau reaksi penetralan.&lt;br /&gt;Susu merupakan emulsi lemak dalam air yang mengandung garam-garam mineral, gula, dan protein. Komposisi paling besar terjadi pada kandungan lemak. Hal ini disebabkan karena kadar lemak susu sangat dipengaruhi oleh baik oleh faktor internal maupun faktor eksternal. Air dalam susu berfungsi sebagai pelarut dan membentuk emulsi, suspense koloidal. Flavor dalam susu sangat ditentukan oleh lemak susu. Laktosa merupakan disakarida yang bila dihidrolisis satu molekul yang sama dengan sukrosa kemanisannya 1/6 kali kemanisan sukrosa. Laktosa adalah bentuk karbohidrat yang terdapat didalam air susu. Bentuk ini tidak terdapat dalam bahan-bahan makanan yang lain. Kadar laktosa di dalam air susu adalah 4.60% dan ditemukan dalam keadaan larut. Laktosa terbentuk dari dua komponen gula yaitu glukosa dan galaktosa. Sifat air susu yang sedikit manis ditentukan oleh laktosa. Kadar laktosa dalam air susu dapat dirusak oleh beberapa jenis kuman pembentuk asam susu. &lt;br /&gt;Susu segar yang normal berasa agak manis dan mempunyai aroma yang spesifik. Aroma susu akan lenyap bila didiamkan beberapa jam atau bila susu dididinginkan. Cita rasa susu berhubungan dengan kandungan laktosa tinggi dan kadar klorida relative rendah. Susu dengan kandungan laktosa rendah tetapi kadar klorida tinggi menyebabkan cita rasa susu menjadi asin. Warna putih susu merupakan refleksi  cahaya oleh globula lemak, kalsium kaseinat, dan koloid fosfat. Karoten adalah warna yang menyebabkan warna kuning susu. &lt;br /&gt;Pemeriksaan air susu dapat dilakukan secara fisik, kimia dan biologis. Pemeriksaan secara fisik dapat dilakukan dengan memeriksa warna, rasa dan aroma air susu dengan indera kita, sedangkan pemeriksaan kualitas air susu secara kimia dilakukan dengan menggunakan zat kimia atau reaksi kimia tertentu. Pemeriksaan kualitas air susu secara biologis dapat dilakukan dengan mikroskopis, bakteriologis dan biokimia.&lt;br /&gt;1. Berat jenis&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Gb. 1. Laktodensimeter&lt;br /&gt;Berat jenis suatu bahan adalah perbandingan antara berat bahan tersebut dengan berat air pada suhu dan volume yang sama. Berdasarkan batasan ini, maka berat Jenis tidak ada satuannya. Berat jenis susu rata-ratanya adalah 1,032. Berat jenis susu dipengaruhi oleh padatan total dan padatan tanpa lemak. Kadar padatan total susu akan diketahui jika diketahui berat jenis dan dan kadar lemaknya. &lt;br /&gt;Berat jenis susu biasanya ditentukan dengan menggunakan lactometer. Lactometer adalah hydrometer dimana skalanya sudah disesuaikan dengan berat jenis susu. Prinsip kerja alat ini mengikuti hokum Archimedes yaitu jika suatu benda dicelupkan ke dalam cairan maka benda tersebut akan mendapatkan tekanan ke atas sesuai dengan berat volume cairan yang dipindahkan atau diisi. Jika lactometer dicelupkan ke dalam susu yang rendah berat jenisnya maka lactometer akan tenggelam lebih dalam dibandingkan jika lactometer tersebut dicelupkan dalam susu yang berat jenisnya tinggi. Sampel susu sebanyak 250 ml dituangkan kedalam gelas ukur tanpa menimbulkan buih. Laktodensimeter dimasukkan kedalam gelas ukur, diputar-putar sepanjang dinding gelas ukur agar suhunya merata, dan dicatat berat jenis dan suhu dari susu tersebut.&lt;br /&gt;Setelah dilakukan pengujian berat jenis susu, didapatkan hasil bahwa berat jenis susu 1,0021 dan 1,0022 yang dirata-ratakan menjadi 1,0022. Berat jenis susu yang dipersyaratkan dalam SNI 01-3141-1998 adalah minimal 1,0280 sehingga dapat diketahui bahwa susu tidak memenuhi syarat yang ditetapkan oleh SNI 01-3141-1998. BJ yang lebih kecil disebabkan oleh: perubahan kondisi lemak dan adanya gas yang timbul didalam air susu. Selain itu juga disebabkan oleh karena susu umurnya sudah lama dan disimpan dalam freezer dalam keadaan terbuka sehingga uap air masuk ke dalam susu.&lt;br /&gt;Air susu mempunyai berat jenis yang lebih besar daripada air. BJ air susu umumnya 1.027-1.035 dengan rata-rata 1.031. Akan tetapi menurut codex susu, BJ air susu adalah 1.028. Codex susu adalah suatu daftar satuan yang harus dipenuhi air susu sebagai bahan makanan. Daftar ini telah disepakati para ahli gizi dan kesehatan sedunia, walaupun disetiap negara atau daerah mempunyai ketentuan-ketentuan tersendiri. Berat jenis harus ditetapkan 3 jam setelah air susu diperah. &lt;br /&gt;2. Derajat asam &lt;br /&gt;Penentuan % derajat asam dilakukan dengan menimbang susu segar sebanyak 18 g kemudian menambahkan indikator PP atau phenol ptalein  0,5 mL dan langsung titrasi dengan larutan NaOH 0,1 N. Penambahan indikator bertujuan untuk menandai kapan titik akhir atau titik ekivalen titrasi terjadi. PP pada larutan yang asam akan berwarna bening atau tidak berwarna dan jika larutan sudah basa atau mendekati basa arutan akan menjadi merah muda. Penambahan larutan NaOH terus menerus pada saat titrasi akan membuat larutan menjadi netral. Pada saat larutan berubah menjadi merah muda adalah pada saat asam dalam susu seluruhnya telah dinetralkan oleh NaOH 0,1 N. Pada dasarnya titrasi ini adalah reaksi penetralan, reaksinya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;H+ + OH-    H20&lt;br /&gt;Pada sejumlah sampel susu yang asam maka didalamnya akan banyak terkandung ion H+, ion ini kemudian akan bereaksi dengan OH- selama tirasi sehingga membentuk H2O atau air yang bersifat netral. Semakin banyak mL NaOH yang dihabiskan untuk titrasi maka semakin banyak pula asam yang dibebaskan dan berikatan dengan OH-.&lt;br /&gt;Pembentukan asam dalam susu diistilahkan dengan kata “masam” dan rasa masam susu disebabkan karena adanya asam laktat. Pengasaman susu ini disebabkan oleh aktivitas bakteri yang memecah laktosa membentuk asam laktat. Persentase asam dalam susu dapat digunakan sebagai indikator umur dan penanganan susu.  Asiditas susu dapat dinyatakan dengan dua cara yaitu cara asam tertitrasi dan pH. Penetapan asiditas susu segar dengan titrasi alkali sebenarnya tidak menggambarkan jumlah asam laktat karena susu segar tidak mengandung asam laktat. Didalam susu terdapat komponen-komponen yang bersifat asam yang dapat bereaksi dengan alkali, misalnya fosfat, casein dan alnumin, karbondioksida dan  sitrat. &lt;br /&gt;Asiditas susu segar dikenal sebagai asiditas  alami yaitu berkisar 0,10-0,26% sebagai asam laktat. Uji asiditas sering digunakan dalam penilaian mutu susu. Walaupun demikian uji asiditas saja tidak cukup dalam menilai mutu susu karena adanya penyimpangan aroma dan cita rasa susu tidak dapat diketahui dengan uji derajat asam.&lt;br /&gt;Setelah dilakukan pengujian derajat asam, didapatkan hasil bahwa derajat asam susu adalah 0,137%. Persyaratan yang ditetapkan oleh SNI 01-3141-1998 untuk derajat asam adalah 6-7 0SH. Sedangkan derajat asam ditetapkan dengan satuan % yaitu 0,137%. Didalam Tien R Muhtadi dijelaskan bahwa keasaman susu dalam % berkisar antara 0,1-0,26% dan 0,137% ada dalam kisaran tersebut. Derajat asam yang menyatakan banyaknya asam laktat dalam susu telah memenuhi syarat namun tidak sesuai dengan SNI satuannya. &lt;br /&gt;Susu segar mempunyai sifat ampoter, artinya dapat bersifat asam dan basa sekaligus. Jika diberi kertas lakmus biru, maka warnanya akan menjadi merah, sebaliknya jika diberi kertas lakmus merah warnanya akan berubah menjadi biru. Potensial ion hydrogen (pH) susu segar terletak antara 6.5–6.7. Jika dititrasi dengan alkali dan kataliasator penolptalin, total asam dalam susu diketahui hanya 0.10 – 0.26 % saja. Sebagian besar asam yang ada dalam susu adalah asam laktat. Bila nilai pH air susu lebih tinggi dari 6,7 biasanya diartikan terkena mastitis dan bila pH dibawah 6,5 menunjukkan adanya kolostrum ataupun pemburukan bakteri.&lt;br /&gt;H. KESIMPULAN&lt;br /&gt;Kesimpulan dari praktikum penentuan berat jenis dan % derajat asam susu segar adalah&lt;br /&gt;  Berat jenis susu segar yaitu 1,0022 dan tidak memenuhi syarat sesuai dengan SNI 01-3141-1998&lt;br /&gt;  % derajat asam susu segar adalah 0,137% dan telah memenuhi persyaratan.&lt;br /&gt;I. DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;  Tien R muhtadi dan Sugiono. 1992. Ilmu Pengetahuan Bahan Pangan. Bogor: pusat antar universitas pangan dan gizi. &lt;br /&gt;  www.idtesis.com&lt;br /&gt;  www.SUSU-kambing.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/323191937197769501-3696657644684721705?l=faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com/feeds/3696657644684721705/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com/2009/10/pengujian-mutu-susu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/323191937197769501/posts/default/3696657644684721705'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/323191937197769501/posts/default/3696657644684721705'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com/2009/10/pengujian-mutu-susu.html' title='pengujian mutu susu'/><author><name>faulampung</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_Cjw3gNDtzIs/SqR3soMJJFI/AAAAAAAAAAs/gZeQB16CqFs/S220/fau+di+lantai+1+polije+office3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-323191937197769501.post-6626139106728602960</id><published>2009-10-22T05:18:00.000-07:00</published><updated>2009-10-22T05:28:10.806-07:00</updated><title type='text'>laporan praktikum</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt; content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cdinda%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="Edit-Time-Data" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cdinda%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_editdata.mso"&gt;&lt;!--[if !mso]&gt; &lt;style&gt; v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:* {behavior:url(#default#VML);} w\:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:officedocumentsettings&gt;   &lt;o:relyonvml/&gt;   &lt;o:allowpng/&gt;  &lt;/o:OfficeDocumentSettings&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cdinda%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cdinda%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves&gt;false&lt;/w:TrackMoves&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;    &lt;w:usefelayout/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" name="header"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Wingdings; 	panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:2; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:"Maiandra GD"; 	panose-1:2 14 5 2 3 3 8 2 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} p.MsoHeader, li.MsoHeader, div.MsoHeader 	{mso-style-link:"Header Char"; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	tab-stops:center 234.0pt right 468.0pt; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} p.MsoBodyText, li.MsoBodyText, div.MsoBodyText 	{mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-link:"Body Text Char"; 	mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0cm; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0cm; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} a:link, span.MsoHyperlink 	{mso-style-priority:99; 	color:blue; 	mso-themecolor:hyperlink; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed 	{mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	color:purple; 	mso-themecolor:followedhyperlink; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} p 	{mso-style-priority:99; 	mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0cm; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0cm; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} pre 	{mso-style-priority:99; 	mso-style-link:"HTML Preformatted Char"; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	tab-stops:45.8pt 91.6pt 137.4pt 183.2pt 229.0pt 274.8pt 320.6pt 366.4pt 412.2pt 458.0pt 503.8pt 549.6pt 595.4pt 641.2pt 687.0pt 732.8pt; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Courier New"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoListParagraph, li.MsoListParagraph, div.MsoListParagraph 	{mso-style-priority:34; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:36.0pt; 	mso-add-space:auto; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} p.MsoListParagraphCxSpFirst, li.MsoListParagraphCxSpFirst, div.MsoListParagraphCxSpFirst 	{mso-style-priority:34; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:0cm; 	margin-left:36.0pt; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} p.MsoListParagraphCxSpMiddle, li.MsoListParagraphCxSpMiddle, div.MsoListParagraphCxSpMiddle 	{mso-style-priority:34; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:0cm; 	margin-left:36.0pt; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} p.MsoListParagraphCxSpLast, li.MsoListParagraphCxSpLast, div.MsoListParagraphCxSpLast 	{mso-style-priority:34; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:36.0pt; 	mso-add-space:auto; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} p.MsoIntenseQuote, li.MsoIntenseQuote, div.MsoIntenseQuote 	{mso-style-priority:30; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-link:"Intense Quote Char"; 	mso-style-next:Normal; 	margin-top:10.0pt; 	margin-right:46.8pt; 	margin-bottom:14.0pt; 	margin-left:46.8pt; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	border:none; 	mso-border-bottom-alt:solid #4F81BD .5pt; 	mso-border-bottom-themecolor:accent1; 	padding:0cm; 	mso-padding-alt:0cm 0cm 4.0pt 0cm; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi; 	color:#4F81BD; 	mso-themecolor:accent1; 	font-weight:bold; 	font-style:italic;} span.IntenseQuoteChar 	{mso-style-name:"Intense Quote Char"; 	mso-style-priority:30; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:"Intense Quote"; 	color:#4F81BD; 	mso-themecolor:accent1; 	font-weight:bold; 	font-style:italic;} span.HeaderChar 	{mso-style-name:"Header Char"; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:Header;} span.BodyTextChar 	{mso-style-name:"Body Text Char"; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:"Body Text"; 	mso-ansi-font-size:12.0pt; 	mso-bidi-font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-ascii-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-hansi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} span.HTMLPreformattedChar 	{mso-style-name:"HTML Preformatted Char"; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:"HTML Preformatted"; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt; 	font-family:"Courier New"; 	mso-ascii-font-family:"Courier New"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-hansi-font-family:"Courier New"; 	mso-bidi-font-family:"Courier New";} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:21.0cm 842.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:35.45pt; 	mso-footer-margin:35.45pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:154958148; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-385550232 67698709 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 	{mso-level-number-format:alpha-upper; 	mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l0:level2 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l1 	{mso-list-id:180707482; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-1272446100 -302907350 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l1:level1 	{mso-level-number-format:image; 	list-style-image:url("file:///C:/DOCUME~1/dinda/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image001.gif"); 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Symbol; 	color:windowtext;} @list l2 	{mso-list-id:731007954; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:1674762278 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l2:level1 	{mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l3 	{mso-list-id:920604076; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-2075731750 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l3:level1 	{mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l4 	{mso-list-id:1220096721; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:2130895918 -302907350 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l4:level1 	{mso-level-number-format:image; 	list-style-image:url("file:///C:/DOCUME~1/dinda/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image001.gif"); 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:53.5pt; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Symbol; 	color:windowtext;} @list l5 	{mso-list-id:1245336532; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:1237898946 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l5:level1 	{mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l6 	{mso-list-id:1313749444; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-1115113850 -302907350 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l6:level1 	{mso-level-number-format:image; 	list-style-image:url("file:///C:/DOCUME~1/dinda/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image001.gif"); 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Symbol; 	color:windowtext;} @list l7 	{mso-list-id:1374309531; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:1115093454 -302907350 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l7:level1 	{mso-level-number-format:image; 	list-style-image:url("file:///C:/DOCUME~1/dinda/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image001.gif"); 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Symbol; 	color:windowtext;} @list l8 	{mso-list-id:1430858388; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:1855856492 -302907350 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l8:level1 	{mso-level-number-format:image; 	list-style-image:url("file:///C:/DOCUME~1/dinda/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image001.gif"); 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:54.0pt; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Symbol; 	color:windowtext;} @list l9 	{mso-list-id:1439180084; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-1134394604 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l9:level1 	{mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l10 	{mso-list-id:1607346187; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-272611220 -302907350 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l10:level1 	{mso-level-number-format:image; 	list-style-image:url("file:///C:/DOCUME~1/dinda/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image001.gif"); 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Symbol; 	color:windowtext;} @list l11 	{mso-list-id:1682974512; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:865640080 -302907350 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l11:level1 	{mso-level-number-format:image; 	list-style-image:url("file:///C:/DOCUME~1/dinda/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image001.gif"); 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Symbol; 	color:windowtext;} @list l12 	{mso-list-id:1751853409; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:1815530478 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l12:level1 	{mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l13 	{mso-list-id:2038306651; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:1089512948 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l13:level1 	{mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} ol 	{margin-bottom:0cm;} ul 	{margin-bottom:0cm;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0cm; 	mso-para-margin-right:0cm; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} table.MsoTableLightListAccent3 	{mso-style-name:"Light List - Accent 3"; 	mso-tstyle-rowband-size:1; 	mso-tstyle-colband-size:1; 	mso-style-priority:61; 	mso-style-unhide:no; 	border:solid #9BBB59 1.0pt; 	mso-border-themecolor:accent3; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} table.MsoTableLightListAccent3FirstRow 	{mso-style-name:"Light List - Accent 3"; 	mso-table-condition:first-row; 	mso-style-priority:61; 	mso-style-unhide:no; 	mso-tstyle-shading:#9BBB59; 	mso-tstyle-shading-themecolor:accent3; 	mso-para-margin-top:0cm; 	mso-para-margin-bottom:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	line-height:normal; 	color:white; 	mso-themecolor:background1; 	mso-ansi-font-weight:bold; 	mso-bidi-font-weight:bold;} table.MsoTableLightListAccent3LastRow 	{mso-style-name:"Light List - Accent 3"; 	mso-table-condition:last-row; 	mso-style-priority:61; 	mso-style-unhide:no; 	mso-tstyle-border-top:2.25pt double #9BBB59; 	mso-tstyle-border-top-themecolor:accent3; 	mso-tstyle-border-left:1.0pt solid #9BBB59; 	mso-tstyle-border-left-themecolor:accent3; 	mso-tstyle-border-bottom:1.0pt solid #9BBB59; 	mso-tstyle-border-bottom-themecolor:accent3; 	mso-tstyle-border-right:1.0pt solid #9BBB59; 	mso-tstyle-border-right-themecolor:accent3; 	mso-para-margin-top:0cm; 	mso-para-margin-bottom:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	line-height:normal; 	mso-ansi-font-weight:bold; 	mso-bidi-font-weight:bold;} table.MsoTableLightListAccent3FirstCol 	{mso-style-name:"Light List - Accent 3"; 	mso-table-condition:first-column; 	mso-style-priority:61; 	mso-style-unhide:no; 	mso-ansi-font-weight:bold; 	mso-bidi-font-weight:bold;} table.MsoTableLightListAccent3LastCol 	{mso-style-name:"Light List - Accent 3"; 	mso-table-condition:last-column; 	mso-style-priority:61; 	mso-style-unhide:no; 	mso-ansi-font-weight:bold; 	mso-bidi-font-weight:bold;} table.MsoTableLightListAccent3OddColumn 	{mso-style-name:"Light List - Accent 3"; 	mso-table-condition:odd-column; 	mso-style-priority:61; 	mso-style-unhide:no; 	mso-tstyle-border-top:1.0pt solid #9BBB59; 	mso-tstyle-border-top-themecolor:accent3; 	mso-tstyle-border-left:1.0pt solid #9BBB59; 	mso-tstyle-border-left-themecolor:accent3; 	mso-tstyle-border-bottom:1.0pt solid #9BBB59; 	mso-tstyle-border-bottom-themecolor:accent3; 	mso-tstyle-border-right:1.0pt solid #9BBB59; 	mso-tstyle-border-right-themecolor:accent3;} table.MsoTableLightListAccent3OddRow 	{mso-style-name:"Light List - Accent 3"; 	mso-table-condition:odd-row; 	mso-style-priority:61; 	mso-style-unhide:no; 	mso-tstyle-border-top:1.0pt solid #9BBB59; 	mso-tstyle-border-top-themecolor:accent3; 	mso-tstyle-border-left:1.0pt solid #9BBB59; 	mso-tstyle-border-left-themecolor:accent3; 	mso-tstyle-border-bottom:1.0pt solid #9BBB59; 	mso-tstyle-border-bottom-themecolor:accent3; 	mso-tstyle-border-right:1.0pt solid #9BBB59; 	mso-tstyle-border-right-themecolor:accent3;} table.MsoTableMediumShading1Accent3 	{mso-style-name:"Medium Shading 1 - Accent 3"; 	mso-tstyle-rowband-size:1; 	mso-tstyle-colband-size:1; 	mso-style-priority:63; 	mso-style-unhide:no; 	border:solid #B3CC82 1.0pt; 	mso-border-themecolor:accent3; 	mso-border-themetint:191; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-border-insideh:1.0pt solid #B3CC82; 	mso-border-insideh-themecolor:accent3; 	mso-border-insideh-themetint:191; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} table.MsoTableMediumShading1Accent3FirstRow 	{mso-style-name:"Medium Shading 1 - Accent 3"; 	mso-table-condition:first-row; 	mso-style-priority:63; 	mso-style-unhide:no; 	mso-tstyle-shading:#9BBB59; 	mso-tstyle-shading-themecolor:accent3; 	mso-tstyle-border-top:1.0pt solid #B3CC82; 	mso-tstyle-border-top-themecolor:accent3; 	mso-tstyle-border-top-themetint:191; 	mso-tstyle-border-left:1.0pt solid #B3CC82; 	mso-tstyle-border-left-themecolor:accent3; 	mso-tstyle-border-left-themetint:191; 	mso-tstyle-border-bottom:1.0pt solid #B3CC82; 	mso-tstyle-border-bottom-themecolor:accent3; 	mso-tstyle-border-bottom-themetint:191; 	mso-tstyle-border-right:1.0pt solid #B3CC82; 	mso-tstyle-border-right-themecolor:accent3; 	mso-tstyle-border-right-themetint:191; 	mso-tstyle-border-insideh:cell-none; 	mso-tstyle-border-insidev:cell-none; 	mso-para-margin-top:0cm; 	mso-para-margin-bottom:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	line-height:normal; 	color:white; 	mso-themecolor:background1; 	mso-ansi-font-weight:bold; 	mso-bidi-font-weight:bold;} table.MsoTableMediumShading1Accent3LastRow 	{mso-style-name:"Medium Shading 1 - Accent 3"; 	mso-table-condition:last-row; 	mso-style-priority:63; 	mso-style-unhide:no; 	mso-tstyle-border-top:2.25pt double #B3CC82; 	mso-tstyle-border-top-themecolor:accent3; 	mso-tstyle-border-top-themetint:191; 	mso-tstyle-border-left:1.0pt solid #B3CC82; 	mso-tstyle-border-left-themecolor:accent3; 	mso-tstyle-border-left-themetint:191; 	mso-tstyle-border-bottom:1.0pt solid #B3CC82; 	mso-tstyle-border-bottom-themecolor:accent3; 	mso-tstyle-border-bottom-themetint:191; 	mso-tstyle-border-right:1.0pt solid #B3CC82; 	mso-tstyle-border-right-themecolor:accent3; 	mso-tstyle-border-right-themetint:191; 	mso-tstyle-border-insideh:cell-none; 	mso-tstyle-border-insidev:cell-none; 	mso-para-margin-top:0cm; 	mso-para-margin-bottom:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	line-height:normal; 	mso-ansi-font-weight:bold; 	mso-bidi-font-weight:bold;} table.MsoTableMediumShading1Accent3FirstCol 	{mso-style-name:"Medium Shading 1 - Accent 3"; 	mso-table-condition:first-column; 	mso-style-priority:63; 	mso-style-unhide:no; 	mso-ansi-font-weight:bold; 	mso-bidi-font-weight:bold;} table.MsoTableMediumShading1Accent3LastCol 	{mso-style-name:"Medium Shading 1 - Accent 3"; 	mso-table-condition:last-column; 	mso-style-priority:63; 	mso-style-unhide:no; 	mso-ansi-font-weight:bold; 	mso-bidi-font-weight:bold;} table.MsoTableMediumShading1Accent3OddColumn 	{mso-style-name:"Medium Shading 1 - Accent 3"; 	mso-table-condition:odd-column; 	mso-style-priority:63; 	mso-style-unhide:no; 	mso-tstyle-shading:#E6EED5; 	mso-tstyle-shading-themecolor:accent3; 	mso-tstyle-shading-themetint:63;} table.MsoTableMediumShading1Accent3OddRow 	{mso-style-name:"Medium Shading 1 - Accent 3"; 	mso-table-condition:odd-row; 	mso-style-priority:63; 	mso-style-unhide:no; 	mso-tstyle-shading:#E6EED5; 	mso-tstyle-shading-themecolor:accent3; 	mso-tstyle-shading-themetint:63; 	mso-tstyle-border-insideh:cell-none; 	mso-tstyle-border-insidev:cell-none;} table.MsoTableMediumShading1Accent3EvenRow 	{mso-style-name:"Medium Shading 1 - Accent 3"; 	mso-table-condition:even-row; 	mso-style-priority:63; 	mso-style-unhide:no; 	mso-tstyle-border-insideh:cell-none; 	mso-tstyle-border-insidev:cell-none;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:shapedefaults ext="edit" spidmax="3074"&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:shapelayout ext="edit"&gt;   &lt;o:idmap ext="edit" data="1"&gt;   &lt;o:rules ext="edit"&gt;    &lt;o:r id="V:Rule1" type="connector" idref="#_x0000_s1028"&gt;    &lt;o:r id="V:Rule2" type="connector" idref="#_x0000_s1026"&gt;    &lt;o:r id="V:Rule3" type="connector" idref="#_x0000_s1027"&gt;   &lt;/o:rules&gt;  &lt;/o:shapelayout&gt;&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;  &lt;div style="border-style: none none solid; border-color: -moz-use-text-color -moz-use-text-color rgb(79, 129, 189); border-width: medium medium 1pt; padding: 0cm 0cm 4pt; margin-left: 46.8pt; margin-right: 46.8pt;"&gt;  &lt;p class="MsoIntenseQuote" style="margin: 10pt 0cm 14pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;color:#000000;"   &gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:georgia;" &gt;laporan praktikum&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoIntenseQuote" style="margin: 10pt 0cm 14pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;color:#000000;"   &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoIntenseQuote" style="margin: 10pt 0cm 14pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;color:#000000;"   &gt;PENGUJIAN MUTU MINYAK KAYU PUTIH&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -21.3pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;A.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;TUJUAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoHeader" style="margin: 5.25pt 0cm 6pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Menentukan mutu minyak kayu putih yang dilihat dari parameter berat jenis dan kelarutannya dalam alcohol berdasarkan &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="SV" &gt;SNI 06-3954-2001.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;B.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;PRINSIP&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Prinsip penentuan berat jenis&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Berat jenis suatu bahan adalah perbandingan antara berat bahan tersebut dengan berat air pada suhu dan volume yang sama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Prinsip penentuan kelarutan minyak dalam alkohol&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;A&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt;lkohol dapat larut dengan minyak atsiri maka pada komposisi minyak atsiri yang dihasilkan tersebut terdapat komponen-komponen terpen teroksigenasi&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;, &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt;kelarutan minyak dalam alkohol ditentukan oleh jenis komponen kimia yang terkandung dalam minyak.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;C.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;DASAR TEORI&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Minyak kayu putih&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Kayu Putih (&lt;i style=""&gt;Melaleuca leucadendra&lt;/i&gt; L.) Famili Myrtaceae. Kayu putih dapat tumbuh di tanah tandus, tahan panas dan dapat bertunas kembali setelah terjadi kebakaran. Tanaman ini dapat ditemukan dari dataran rendah sampai 400 m dpl, dapat tumbuh di dekat pantai di belakang hutan bakau, di tanah berawa atau membentuk hutan kecil di tanah kering sampai basah. Pohon, tinggi 10-20 m, kulit batangnya berlapis-lapis, berwarna putih keabu-abuan dengan permukaan kulit yang terkelupas tidak beraturan. Batang pohonnya tidak terlalu besar, dengan percabangan yang menggantung kebawah. Daun tunggal, agak tebal seperti kulit, bertangkai pendek, letak berseling. Helaian daun berbentuk jorong atau lanset, panjang 4,5-15 cm, lebar 0,75-4 cm, ujung dan pangkalnya runcing, tepi rata, tulang daun hampir sejajar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:f&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/o:lock&gt;&lt;v:shape id="Picture_x0020_3" spid="_x0000_i1026" type="#_x0000_t75" style="width: 101.25pt; height: 113.25pt; visibility: visible;"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cdinda%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_image002.jpg" title="tanaman_17kayuputih"&gt; &lt;/v:imagedata&gt;&lt;/v:shape&gt;&lt;/v:path&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:formulas&gt;&lt;/v:stroke&gt;&lt;/v:shapetype&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Gambar 1. Pohon kayu putih&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Gelam&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt; atau &lt;span style=""&gt;Kayu putih&lt;/span&gt; (&lt;i&gt;Melaleuca leucadendra&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sinonim" title="Sinonim"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;syn.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/a&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;M&lt;i&gt;. leucadendron&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;) merupakan &lt;/span&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pohon" title="Pohon"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;pohon&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt; anggota suku jambu-jambuan (&lt;/span&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Myrtaceae" title="Myrtaceae"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Myrtaceae&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;) yang dimanfaatkan sebagai sumber &lt;/span&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Minyak_kayu_putih" title="Minyak kayu putih"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;minyak kayu putih&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt; (&lt;span style=""&gt;cajuput oil&lt;/span&gt;). Minyak diekstrak (biasanya di&lt;/span&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Penyulingan" title="Penyulingan"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;suling&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt; dengan &lt;/span&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Air" title="Air"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;uap&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;) terutama dari &lt;/span&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Daun" title="Daun"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;daun&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt; dan &lt;/span&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ranting&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Ranting (halaman belum tersedia)"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;rantingnya&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;. Namanya diambil dari warna &lt;/span&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Batang" title="Batang"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;batangnya&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt; yang memang putih.Tumbuhan ini terutama tumbuh baik di Indonesia bagian timur dan &lt;/span&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Australia" title="Australia"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Australia&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt; bagian utara, namun demikian dapat pula diusahakan di daerah-daerah lain yang memiliki &lt;/span&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Musim_kemarau" title="Musim kemarau"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;musim kemarau&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt; yang jelas. Minyak kayu putih mudah menguap. Pada hari yang panas orang yang berdekatan dengan pohon ini akan dapat membauinya dari jarak yang cukup jauh. Sebagai tumbuhan industri, kayu putih dapat diusahakan dalam bentuk hutan usaha (&lt;/span&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Agroforestri&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Agroforestri (halaman belum tersedia)"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;agroforestri&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;). &lt;/span&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Perhutani" title="Perhutani"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Perhutani&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt; memiliki beberapa hutan kayu putih untuk memproduksinya. Minyak kayu putih yang diambil dari penyulingan biasa dipakai sebagai minyak balur atau campuran minyak pengobatan lain (seperti &lt;/span&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Minyak_telon" title="Minyak telon"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;minyak telon&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;) atau campuran &lt;/span&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Parfum" title="Parfum"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;parfum&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt; serta produk rumah tangga lain (&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.wikipedia.org/"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;http://www.wikipedia.org&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Standar mutu minyak kayu putih&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="SV" &gt;Standar Minyak Kayu Putih Menurut SNI 06-3954-2001&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoTableMediumShading1Accent3" style="border: medium none ; margin-left: 5.4pt; border-collapse: collapse;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: solid none solid solid; border-color: rgb(179, 204, 130) -moz-use-text-color rgb(179, 204, 130) rgb(179, 204, 130); border-width: 1pt medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; background: rgb(155, 187, 89) none repeat scroll 0% 0%; width: 216pt; -moz-background-clip: border; -moz-background-origin: padding; -moz-background-inline-policy: continuous;" width="288" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="SV" &gt;Karakteristik&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: rgb(179, 204, 130) rgb(179, 204, 130) rgb(179, 204, 130) -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; background: rgb(155, 187, 89) none repeat scroll 0% 0%; width: 230.55pt; -moz-background-clip: border; -moz-background-origin: padding; -moz-background-inline-policy: continuous;" width="307" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="SV" &gt;Syarat &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none none solid solid; border-color: -moz-use-text-color -moz-use-text-color rgb(179, 204, 130) rgb(179, 204, 130); border-width: medium medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; background: rgb(230, 238, 213) none repeat scroll 0% 0%; width: 216pt; -moz-background-clip: border; -moz-background-origin: padding; -moz-background-inline-policy: continuous;" width="288" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="SV" &gt;Warna&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color rgb(179, 204, 130) rgb(179, 204, 130) -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; background: rgb(230, 238, 213) none repeat scroll 0% 0%; width: 230.55pt; -moz-background-clip: border; -moz-background-origin: padding; -moz-background-inline-policy: continuous;" width="307" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="SV" &gt;Kekuning-kuningan sampai kehijauan&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none none solid solid; border-color: -moz-use-text-color -moz-use-text-color rgb(179, 204, 130) rgb(179, 204, 130); border-width: medium medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 216pt;" width="288" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="SV" &gt;Bobot jenis&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color rgb(179, 204, 130) rgb(179, 204, 130) -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 230.55pt;" width="307" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="SV" &gt;0.868-0.921&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none none solid solid; border-color: -moz-use-text-color -moz-use-text-color rgb(179, 204, 130) rgb(179, 204, 130); border-width: medium medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; background: rgb(230, 238, 213) none repeat scroll 0% 0%; width: 216pt; -moz-background-clip: border; -moz-background-origin: padding; -moz-background-inline-policy: continuous;" width="288" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="SV" &gt;Kelarutan dalam etanol 80%&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color rgb(179, 204, 130) rgb(179, 204, 130) -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; background: rgb(230, 238, 213) none repeat scroll 0% 0%; width: 230.55pt; -moz-background-clip: border; -moz-background-origin: padding; -moz-background-inline-policy: continuous;" width="307" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="SV" &gt;1:1 sampai dengan 1:10 (Volume) jernih&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none none solid solid; border-color: -moz-use-text-color -moz-use-text-color rgb(179, 204, 130) rgb(179, 204, 130); border-width: medium medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 216pt;" width="288" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="SV" &gt;Kadar Sineol (%)&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color rgb(179, 204, 130) rgb(179, 204, 130) -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 230.55pt;" width="307" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="SV" &gt;50 – 65&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="SV" &gt;Mutu utama &gt; 55%&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="SV" &gt;Mutu Pertama &lt;&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none none solid solid; border-color: -moz-use-text-color -moz-use-text-color rgb(179, 204, 130) rgb(179, 204, 130); border-width: medium medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; background: rgb(230, 238, 213) none repeat scroll 0% 0%; width: 216pt; -moz-background-clip: border; -moz-background-origin: padding; -moz-background-inline-policy: continuous;" width="288" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="SV" &gt;Putaran Optik&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color rgb(179, 204, 130) rgb(179, 204, 130) -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; background: rgb(230, 238, 213) none repeat scroll 0% 0%; width: 230.55pt; -moz-background-clip: border; -moz-background-origin: padding; -moz-background-inline-policy: continuous;" width="307" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="SV" &gt;-4° - 0°&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none none solid solid; border-color: -moz-use-text-color -moz-use-text-color rgb(179, 204, 130) rgb(179, 204, 130); border-width: medium medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 216pt;" width="288" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="SV" &gt;Indeks Bias&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color rgb(179, 204, 130) rgb(179, 204, 130) -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 230.55pt;" width="307" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="SV" &gt;1,464 – 1482&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -21.3pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;D.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="SV" &gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;ALAT DAN BAHAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Alat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 53.5pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:Symbol;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/dinda/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image001.gif" alt="*" width="13" height="13" /&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Neraca &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 53.5pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:Symbol;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/dinda/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image001.gif" alt="*" width="13" height="13" /&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;piknometer&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 53.5pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:Symbol;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/dinda/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image001.gif" alt="*" width="13" height="13" /&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;tabung reaksi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 53.5pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:Symbol;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/dinda/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image001.gif" alt="*" width="13" height="13" /&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;eksikator&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 53.5pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:Symbol;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/dinda/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image001.gif" alt="*" width="13" height="13" /&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;oven&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 53.5pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:Symbol;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/dinda/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image001.gif" alt="*" width="13" height="13" /&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;timer&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 53.5pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:Symbol;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/dinda/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image001.gif" alt="*" width="13" height="13" /&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;pipet ukur 10 mL&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 53.5pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:Symbol;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/dinda/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image001.gif" alt="*" width="13" height="13" /&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;pipet filler&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 53.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Bahan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:Symbol;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/dinda/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image001.gif" alt="*" width="13" height="13" /&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Sampel Minyak kayu putih&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:Symbol;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/dinda/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image001.gif" alt="*" width="13" height="13" /&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Alcohol 80%&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -21.3pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;E.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;PROSEDUR KERJA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 200%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 200%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Penentuan berat jenis minyak kayu putih&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:Symbol;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/dinda/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image001.gif" alt="*" width="13" height="13" /&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Menyiapkan alat dan bahan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:Symbol;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/dinda/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image001.gif" alt="*" width="13" height="13" /&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Membersihkan piknometer dan mengeringkannya dalam oven selama 10 menit&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:Symbol;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/dinda/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image001.gif" alt="*" width="13" height="13" /&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Mengeluarkannya dari oven dan mendinginkannya dalam eksikator lalu menimbangnya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:Symbol;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/dinda/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image001.gif" alt="*" width="13" height="13" /&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Memasukkan sampel yang akan di uji&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berat jenisnya ke dalam piknometer sampai penuh&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:Symbol;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/dinda/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image001.gif" alt="*" width="13" height="13" /&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Menutup piknometer dengan penutup yang sesuai sampai tidak ada gelembung udara dalam piknometer&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:Symbol;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/dinda/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image001.gif" alt="*" width="13" height="13" /&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Mengeringkan piknometer serta tutupnya denga tissue lalu menimbangnya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 200%;font-family:Symbol;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/dinda/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image001.gif" alt="*" width="13" height="13" /&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 200%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Menghitung berat jenis piknometer&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 200%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 200%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Penentuan kelarutan minyak kayu putih dalam alcohol&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:Symbol;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/dinda/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image001.gif" alt="*" width="13" height="13" /&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Menyiapkan alat dan bahan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:Symbol;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/dinda/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image001.gif" alt="*" width="13" height="13" /&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Memipet minyak kayu putih sebanyak 2 mL dan memasukkannya ke dalam tabung reaksi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:Symbol;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/dinda/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image001.gif" alt="*" width="13" height="13" /&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Menambahkan 8 mL alcohol 80% yang dimasukkan ke dalam tabung reaksi sedikit demi sedikit&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:Symbol;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/dinda/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image001.gif" alt="*" width="13" height="13" /&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Mengosok tabung reaksi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:Symbol;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/dinda/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image001.gif" alt="*" width="13" height="13" /&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Mengamati kejernihan minyak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -21.3pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;F.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;DATA PENGAMATAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Data berat jenis&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoTableLightListAccent3" style="border: medium none ; border-collapse: collapse;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: solid none none solid; border-color: rgb(155, 187, 89) -moz-use-text-color -moz-use-text-color rgb(155, 187, 89); border-width: 1pt medium medium 1pt; padding: 0cm 5.4pt; background: rgb(155, 187, 89) none repeat scroll 0% 0%; width: 27.65pt; -moz-background-clip: border; -moz-background-origin: padding; -moz-background-inline-policy: continuous;" width="37" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;No&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid none none; border-color: rgb(155, 187, 89) -moz-use-text-color -moz-use-text-color; border-width: 1pt medium medium; padding: 0cm 5.4pt; background: rgb(155, 187, 89) none repeat scroll 0% 0%; width: 69.9pt; -moz-background-clip: border; -moz-background-origin: padding; -moz-background-inline-policy: continuous;" width="93" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;mL sampel&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid none none; border-color: rgb(155, 187, 89) -moz-use-text-color -moz-use-text-color; border-width: 1pt medium medium; padding: 0cm 5.4pt; background: rgb(155, 187, 89) none repeat scroll 0% 0%; width: 70.9pt; -moz-background-clip: border; -moz-background-origin: padding; -moz-background-inline-policy: continuous;" width="95" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;mL alcohol&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid none none; border-color: rgb(155, 187, 89) -moz-use-text-color -moz-use-text-color; border-width: 1pt medium medium; padding: 0cm 5.4pt; background: rgb(155, 187, 89) none repeat scroll 0% 0%; width: 191.35pt; -moz-background-clip: border; -moz-background-origin: padding; -moz-background-inline-policy: continuous;" width="255" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Hasil&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid none none; border-color: rgb(155, 187, 89) rgb(155, 187, 89) -moz-use-text-color -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt medium medium; padding: 0cm 5.4pt; background: rgb(155, 187, 89) none repeat scroll 0% 0%; width: 102.35pt; -moz-background-clip: border; -moz-background-origin: padding; -moz-background-inline-policy: continuous;" width="136" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Keterangan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: solid none solid solid; border-color: rgb(155, 187, 89) -moz-use-text-color rgb(155, 187, 89) rgb(155, 187, 89); border-width: 1pt medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 27.65pt;" width="37" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;1&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid none; border-color: rgb(155, 187, 89) -moz-use-text-color; border-width: 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 69.9pt;" width="93" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;2&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid none; border-color: rgb(155, 187, 89) -moz-use-text-color; border-width: 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 70.9pt;" width="95" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;8&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid none; border-color: rgb(155, 187, 89) -moz-use-text-color; border-width: 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 191.35pt;" width="255" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Minyak   larut dalam kekeruhan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: rgb(155, 187, 89) rgb(155, 187, 89) rgb(155, 187, 89) -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 102.35pt;" width="136" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Tipe   B&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Data kelarutan minyak dalam alcohol&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoTableLightListAccent3" style="border: medium none ; border-collapse: collapse;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: solid none none solid; border-color: rgb(155, 187, 89) -moz-use-text-color -moz-use-text-color rgb(155, 187, 89); border-width: 1pt medium medium 1pt; padding: 0cm 5.4pt; background: rgb(155, 187, 89) none repeat scroll 0% 0%; width: 27.65pt; -moz-background-clip: border; -moz-background-origin: padding; -moz-background-inline-policy: continuous;" width="37" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;No &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid none none; border-color: rgb(155, 187, 89) -moz-use-text-color -moz-use-text-color; border-width: 1pt medium medium; padding: 0cm 5.4pt; background: rgb(155, 187, 89) none repeat scroll 0% 0%; width: 91.15pt; -moz-background-clip: border; -moz-background-origin: padding; -moz-background-inline-policy: continuous;" width="122" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Piknometer   kosong (g) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid none none; border-color: rgb(155, 187, 89) -moz-use-text-color -moz-use-text-color; border-width: 1pt medium medium; padding: 0cm 5.4pt; background: rgb(155, 187, 89) none repeat scroll 0% 0%; width: 4cm; -moz-background-clip: border; -moz-background-origin: padding; -moz-background-inline-policy: continuous;" width="151" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Piknometer&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;+ sampel (g)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid none none; border-color: rgb(155, 187, 89) -moz-use-text-color -moz-use-text-color; border-width: 1pt medium medium; padding: 0cm 5.4pt; background: rgb(155, 187, 89) none repeat scroll 0% 0%; width: 106.35pt; -moz-background-clip: border; -moz-background-origin: padding; -moz-background-inline-policy: continuous;" width="142" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Volume   piknometer (mL)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid none none; border-color: rgb(155, 187, 89) rgb(155, 187, 89) -moz-use-text-color -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt medium medium; padding: 0cm 5.4pt; background: rgb(155, 187, 89) none repeat scroll 0% 0%; width: 123.6pt; -moz-background-clip: border; -moz-background-origin: padding; -moz-background-inline-policy: continuous;" width="165" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Berat   jenis minyak kayu putih&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: solid none solid solid; border-color: rgb(155, 187, 89) -moz-use-text-color rgb(155, 187, 89) rgb(155, 187, 89); border-width: 1pt medium 1pt 1pt; padding: 0cm 5.4pt; width: 27.65pt;" width="37" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;1&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid none; border-color: rgb(155, 187, 89) -moz-use-text-color; border-width: 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 91.15pt;" width="122" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;30,361&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid none; border-color: rgb(155, 187, 89) -moz-use-text-color; border-width: 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 4cm;" width="151" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;73,91&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid none; border-color: rgb(155, 187, 89) -moz-use-text-color; border-width: 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 106.35pt;" width="142" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;50&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: rgb(155, 187, 89) rgb(155, 187, 89) rgb(155, 187, 89) -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0cm 5.4pt; width: 123.6pt;" width="165" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;0,8709&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t32" coordsize="21600,21600" spt="32" oned="t" path="m,l21600,21600e" filled="f"&gt;  &lt;v:path arrowok="t" fillok="f" connecttype="none"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" shapetype="t"&gt; &lt;/o:lock&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1027" type="#_x0000_t32" style="position: absolute; left: 0pt; text-align: left; margin-left: 123.3pt; margin-top: 20.8pt; width: 285.55pt; height: 0pt; z-index: 2;" connectortype="straight"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Perhitungan&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;: { piknometer + sampel (g)} – {piknometer kosong (g)} x 1&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/v:shape&gt;&lt;/v:path&gt;&lt;/v:shapetype&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;                                                &lt;/span&gt;Volume piknometer (mL)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1028" type="#_x0000_t32" style="position: absolute; left: 0pt; text-align: left; margin-left: 115.45pt; margin-top: 19.2pt; width: 84.85pt; height: 0pt; z-index: 3;" connectortype="straight"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;                             &lt;/span&gt;: (73,91-30,361) x 1&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;: 0,8709&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/v:shape&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;                                      &lt;/span&gt;50&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin-left: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -21.3pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;G.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;PEMBAHASAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Pengujian minyak kayu putih ini bertujuan untuk menentukan berat jenis minyak kayu putih dan kelarutannya dalam alkohol 80%. Standar mutu untuk minyak kayu putih tertuang dalam SNI &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="SV" &gt;06-3954-2001. Sampel yang diuji adalah minyak kayu putih cap Tresnojoyo.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Penetapan berat jenis minyak kayu putih dilakukan dengan membersihkan piknometer dan mengeringkannya dalam oven selama 10 menit. Agar piknometer lebih bersih dari kotoran-kotoran maka sebaiknya piknometer sebelum digunakan di cuci terlebih dulu dengan aquadest dan eter. Aquadest berfungsi untuk melarutkan kotoran ynag menempel pada piknometer yang bersifat polar yang dapat larut dalam air. Sedangkan eter berfungsi untuk melarutkan komponen. Selanjutnya piknometer dikeluar kan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dari oven dan didinginkan dalam eksikator lalu timbang. Masukkan sampel yang akan di uji&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berat jenisnya ke dalam piknometer sampai penuh. Tutup piknometer dengan penutup yang sesuai sampai tidak ada gelembung udara dalam piknometer. Gelembung udara dapat mempengaruhi penimbangan menyebabkan hasil penimbangan tidak akurat. Keringkan piknometer serta tutupnya denga tissue lalu timbang. Pengeringan dengan tissue dilakukan sampai piknometer benar-benar kering, karena jika tidak hasil penimbangan dapat lebih berat dari yang sebenarnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Perhitungan berat jenis minyak kayu putih menggunakan rumus:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify;"&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1026" type="#_x0000_t32" style="position: absolute; left: 0pt; text-align: left; margin-left: 111.6pt; margin-top: 21.75pt; width: 283.85pt; height: 0pt; z-index: 1;" connectortype="straight"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;=&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;{ piknometer + sampel (g)} – {piknometer kosong (g)} x 1&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/v:shape&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;                                                &lt;/span&gt;Volume piknometer (mL)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Pada rumus diatas, angka 1 adalah koefisien dari pada aquadest, yaitu bahwa berat jenis air murni adalah 1. Setelah dilakukan pengukuran didapatkan data bahwa berat piknometer kosong adalah 30,361, berat piknometer yang ditambahkan sampel yaitu 72.91, dan volume piknometer adalah 50 mL sehingga ketika dimasukkan ke dalam rumus diatas berat jenis minyak kayu putih didapatkan 0,8709. Syarat mutu untuk berat jenis minyak kayu putih dalam SNI &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="SV" &gt;06-3954-2001 berkisar antara &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="SV" &gt;0.868-0.921. dikarenakan 0,8709 ada dalam kisaran tersebut maka dapat dikatakan bahwa berat jenis minyak kayu putih telah memenuhi syarat &lt;span style=""&gt;06-3954-2001.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt;Berat jenis merupakan salah satu kriteria penting dalam menentukan mutu dan kemurnian minyak &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;minyak kayu putih&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt;. Nilai berat jenis minyak &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;minyak kayu putih&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt; didefinisikan sebagai perbandingan antara berat minyak dengan berat air pada volume air yang sama dengan volume minyak pada yang sama pula. Berat jenis sering dihubungkan dengan fraksi berat komponen-komponen yang terkandung didalamnya. Semakin besar fraksi berat yang terkandung dalam minyak, maka semakin besar pula nilai densitasnya. Biasanya berat jenis komponen terpen teroksigenasi lebih besar dibandingkan dengan terpen tak teroksigenasi&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Pengujian selanjutnya yang dilakukan terhadap minyak kayu putih yaitu menguji kelarutan minyak kayu putih dengan alcohol 80%. Pengujian ini dilakukan dengan cara memipet sebanyak 2 mL minyak kayu putih ke dalam tabung reaksi. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Selanjutnya ke dalam tabung reaksi tambahkan alcohol 80% yang dimasukkan sedikit demi sedikit agar minyak dan alcohol dapat tercampur rata. Kocok tabung reaksi dan lakukan pengamatan. Setelah dikocok ternyata minyak dapat bercampur dengan alcohol, namun tidak jernih melainkan keruh. Minyak kayu putih apabila dicampurkan dengan alcohol, ada dua golongan yang terjadi yaitu: &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -21.3pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:Symbol;font-size:12pt;"  lang="SV" &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/dinda/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image001.gif" alt="*" width="13" height="13" /&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="SV" &gt;Tergolong tipe A, bila minyak larut sempurna dan membentuk larutan yang jernih dan cerah dalam perbandingan 80%&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin-left: 21.3pt; text-indent: -21.3pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:Symbol;font-size:12pt;"  lang="SV" &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/dinda/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image001.gif" alt="*" width="13" height="13" /&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="SV" &gt;Tergolong tipe B, apabila minyak larut dengan kekeruhan dan membentuk larutan yang tidak sepenuhnya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;jernih dan cerah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="SV" &gt;Berdasarkan tersebut maka sampel minyak kayu putih digolongkan dalam tipe B karena minyak ini dapat larut dalam alkohol namun tidak dapat jernih. Dalam SNI 06-3954-2001 disebutkan bahwa minyak kayu putih yang memenuhi syarat adalah apabila perbandingan minyak dengan alkohol 1:1 sampai dengan 1:10 larutan akan tetap jernih. Karena larutan yang terbentuk keruh dan tidak jernih maka minyak kayu putih tidak memenuhi SNI 06-3954-2001. &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt;T&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt;elah diketahui bahwa alkohol merupakan gugus OH. Karena alkohol dapat larut dengan minyak atsiri maka pada komposisi minyak atsiri yang dihasilkan tersebut terdapat komponen-komponen terpen teroksigenasi. Hal ini sesuai dengan pernyataan &lt;span style=""&gt;Guenther&lt;/span&gt; bahwa kelarutan minyak dalam alkohol ditentukan oleh jenis komponen kimia yang terkandung dalam minyak. Pada umumnya minyak atsiri yang mengandung persenyawaan terpen teroksigenasi lebih mudah larut daripada yang mengandung terpen. Makin tinggi kandungan terpen makin rendah daya larutnya atau makin sukar larut, karena senyawa terpen tak teroksigenasi merupakan senyawa nonpolar yang tidak mempunyai gugus fungsional. Hal ini dapat disimpulkan bahwa semakin kecil kelarutan minyak &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;kayu putih&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt; pada alkohol (biasanya alkohol &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;80&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt;%) maka kualitas minyaknya semakin baik.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Minyak kayu putih adalah minyak atsiri berupa destilat hasil penyulingan daun kayu putih (&lt;i style=""&gt;Melaleuca leucadendron&lt;/i&gt; Linn.). &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="SV" &gt;Minyak kayu putih tergolong dalam minyak atsiri. &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Minyak atsiri adalah produk yang didapat dari destilasi dari tanaman yang mengandung minyak atsiri yaitu terjadi sebagai hasil atau dampak dari proses‑proses fisiologis sekresi di dalam sel atau ruangan antar sel dari tanaman yang terdapat pada akar, daun, biji ataupun bunga. Minyak atsiri (&lt;span style=""&gt;olea volatil&lt;/span&gt;) ialah minyak yang mudah menguap yang zaman dahulu dikenal dengan minyak terbang dengan rasa yang tajam dan bau &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;yang khas. &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Minyak kayu putih&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt; (&lt;i&gt;cajuput oil&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;, &lt;span style=""&gt;oleum-melaleuca-cajeputi&lt;/span&gt;, atau &lt;span style=""&gt;oleum cajeputi&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;) dihasilkan dari hasil &lt;/span&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Penyulingan" title="Penyulingan"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;penyulingan&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Daun" title="Daun"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;daun&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt; dan ranting &lt;/span&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kayu_putih" title="Kayu putih"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;kayu putih&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt; (&lt;i&gt;M. leucadendra&lt;/i&gt;). &lt;/span&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Minyak_atsiri" title="Minyak atsiri"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Minyak atsiri&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt; ini dipakai sebagai minyak pengobatan, dapat dikonsumsi &lt;span style=""&gt;per oral&lt;/span&gt; (diminum) atau, lebih umum, dibalurkan ke bagian tubuh. Khasiatnya adalah sebagai penghangat tubuh, pelemas otot, dan mencegah perut kembung. Minyak ini mengandung terutama &lt;/span&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Eukaliptol" title="Eukaliptol"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;eukaliptol&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt; (1,8-cineol) (komponen paling banyak, sekitar 60%), &lt;/span&gt;α&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;-&lt;/span&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Terpineol&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Terpineol (halaman belum tersedia)"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;terpineol&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt; dan &lt;/span&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ester" title="Ester"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;ester&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Asetat" title="Asetat"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;asetatnya&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;, &lt;/span&gt;α&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;-&lt;/span&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pinen&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Pinen (halaman belum tersedia)"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;pinen&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;, dan &lt;/span&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Limonen&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Limonen (halaman belum tersedia)"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;limonen&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="SV" &gt;Beberapa parameter lain yang biasanya dijadikan standar untuk mengenali kualitas minyak kayu putih diantaranya adalah:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt;Indeks Bia&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;s&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt;Indeks bias merupakan perbandingan antara kecepatan cahaya di dalam udara dengan kecepatan cahaya didalam zat tersebut pada suhu tertentu. Indeks bias minyak atsiri berhubungan erat dengan komponen-komponen yang tersusun dalam minyak atsiri yang dihasilkan. Sama halnya dengan berat jenis dimana komponen penyusun minyak atsiri dapat mempengaruhi nilai indeks biasnya. Semakin banyak komponen berantai panjang seperti sesquiterpen atau komponen bergugus oksigen ikut tersuling, maka kerapatan medium minyak atsiri akan bertambah sehingga cahaya yang datang akan lebih sukar untuk dibiaskan. Hal ini menyebabkan indeks bias minyak lebih besar. Menurut &lt;span style=""&gt;Guenther, &lt;/span&gt;nilai indeks juga dipengaruhi salah satunya dengan adanya air dalam kandungan minyak jahe tersebut. Semakin banyak kandungan airnya, maka semakin kecil nilai indek biasnya. Ini karena sifat dari air yang mudah untuk membiaskan cahaya yang datang. Jadi minyak atsiri dengan nilai indeks bias yang besar lebih bagus dibandingkan dengan minyak atsiri dengan nilai indeks bias yang kecil.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt;Putaran optik&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt;Sifat optik dari minyak atsiri ditentukan menggunakan alat polarimeter yang nilainya dinyatakan dengan derajat rotasi. Sebagian besar minyak atsiri jika ditempatkan dalam cahaya yang dipolarisasikan maka memiliki sifat memutar bidang polarisasi ke arah kanan (dextrorotary) atau ke arah kiri (laevorotary). Pengukuran parameter ini sangat menentukan kriteria kemurnian suatu minyak atsiri.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt;Bilangan Asam&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="IN" &gt;Bilangan asam menunjukkan kadar asam bebas dalam minyak atsiri. Bilangan asam yang semakin besar dapat mempengaruhi terhadap kualitas minyak atsiri. Yaitu senyawa-senyawa asam tersebut dapat merubah bau khas dari minyak atsiri. Hal ini dapat disebabkan oleh lamanya penyimpanan minyak dan adanya kontak antara minyak atsiri yang dihasilkan dengan sinar dan udara sekitar ketika berada pada botol sampel minyak pada saat penyimpanan. Karena sebagian komposisi minyak atsiri jika kontak dengan udara atau berada pada kondisi yang lembab akan mengalami reaksi oksidasi dengan udara (oksigen) yang dikatalisi oleh cahaya sehingga akan membentuk suatu senyawa asam. Jika penyimpanan minyak tidak diperhatikan atau secara langsung kontak dengan udara sekitar, maka akan semakin banyak juga senyawa-senyawa asam yang terbentuk. Oksidasi komponen-komponen minyak atsiri terutama golongan aldehid dapat membentuk gugus asam karboksilat sehingga akan menambah nilai bilangan asam suatu minyak atsiri. Hal ini juga dapat disebabkan oleh penyulingan pada tekanan tinggi (temperatur tinggi), dimana pada kondisi tersebut kemungkinan terjadinya proses oksidasi sangat besar.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Mutu minyak kayu putih diklasifikasikan menjadi dua, yaitu mutu Utama (U) dan mutu Pertama (P). Keduanya dibedakan oleh kadar cineol, yaitu senyawa kimia golongan ester turunan terpen alkohol yang terdapat dalam minyak atsiri seperti kayu putih. Minyak kayu putih atau &lt;/span&gt;&lt;a href="http://id.88db.com/id/Services/Post_Detail.page/Health_Medical/Medicine_Health_Products/?PostID=242644"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Minyak Angin Aromatherapy&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt; mutu U mempunyai kadar cineol ≥ 55%, sedang mutu P kadar cineolnya kurang dari 55%.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Secara umum, kayu putih dikatakan bermutu apabila mempunyai bau khas minyak kayu putih, memiliki berat jenis yang diukur pada suhu 15&lt;sup&gt;o&lt;/sup&gt;C sebesar 0,90 – 0,93, memiliki indeks bias pada suhu 20&lt;sup&gt;o&lt;/sup&gt;C berkisar antara 1,46 – 1,47 dan putaran optiknya pada suhu 27,5&lt;sup&gt;o&lt;/sup&gt;C sebesar (-4)&lt;sup&gt;o&lt;/sup&gt;–0&lt;sup&gt;o&lt;/sup&gt;. &lt;span style=""&gt;Indeks bias&lt;/span&gt; adalah bilangan yang menunjukkan perbandingan antara sinus sudut datang dengan sinus sudut bias cahaya, sedangkan yang dimaksud &lt;span style=""&gt;putaran optik&lt;/span&gt; adalah besarnya pemutaran bidang polarisasi suatu zat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Disamping itu, minyak kayu putih yang bermutu akan tetap jernih bila dilakukan uji kelarutan dalam alkohol 80%, yaitu dalam perbandingan 1 : 1, 1 : 2, dan seterusnya s.d. 1 : 10. Dalam minyak kayu putih tidak diperkenankan adanya minyak lemak dan minyak pelican. Minyak lemak merupakan minyak yang berasal dari hewan maupun tumbuhan, seperti lemak sapi dan minyak kelapa, yang mungkin ditambahkan sebagai bahan pencampur dalam minyak kayu putih. Demikian juga minyak pelican yang merupakan golongan minyak bumi seperti minyak tanah (kerosene) dan bensin biasa digunakan sebagai bahan pencampur minyak kayu putih, sehingga merusak mutu kayu putih tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;pre style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Salah satu cara untuk mengetahui minyak kayu putih yang mempunyai kualitas bagus/murni dapat dilakukan dengan mengocoknya. Minyak kayu putih yang murni bila dikocok didalam botol maka gelembung-gelembung yang terbentuk dipermukaan akan cepat menghilang. Bila minyak kayu putih dipalsukan, yaitu dicampur dengan minyak tanah atau bensin, maka gelembung-gelembung yang terbentuk setelah dikocok, tidak akan cepat menghilang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -21.3pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;H.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;KESIMPULAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Setelah melakukan pengujian minyak kayu putih yang meliputi berat jenis dan kelarutan dalam alcohol, dapat disimpulkan bahwa:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:Symbol;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/dinda/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image001.gif" alt="*" width="13" height="13" /&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Berat jenis minyak kayu putih 0,8709 telah memenuhi syarat sesuai dengan &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="SV" &gt;SNI 06-3954-2001&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:Symbol;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/dinda/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image001.gif" alt="*" width="13" height="13" /&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="SV" &gt;Kelarutan minyak dalam alkohol hasilnya adalah larut dengan kekeruhan sehingga masuk ke dalam tipe B namun tidak memenuhi SNI 06-3954-2001.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;I.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:Symbol;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/dinda/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image001.gif" alt="*" width="13" height="13" /&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;a href="http://www.wikipedia.org/"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;http://www.wikipedia.org&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:Symbol;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/dinda/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image001.gif" alt="*" width="13" height="13" /&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;a href="http://www.iptek.net.id/ind/pd_tanobat/view.php?id=79"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;http://www.iptek.net.id&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;pre style="margin-left: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/323191937197769501-6626139106728602960?l=faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com/feeds/6626139106728602960/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com/2009/10/laporan-praktikum.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/323191937197769501/posts/default/6626139106728602960'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/323191937197769501/posts/default/6626139106728602960'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com/2009/10/laporan-praktikum.html' title='laporan praktikum'/><author><name>faulampung</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_Cjw3gNDtzIs/SqR3soMJJFI/AAAAAAAAAAs/gZeQB16CqFs/S220/fau+di+lantai+1+polije+office3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-323191937197769501.post-6703126980033685606</id><published>2009-10-09T23:38:00.000-07:00</published><updated>2009-10-10T00:13:03.775-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MSDS'/><title type='text'>MSDS</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Cjw3gNDtzIs/StAzzXoke4I/AAAAAAAAABY/d2y3cqVNmXQ/s1600-h/imagestt.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 117px; height: 144px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Cjw3gNDtzIs/StAzzXoke4I/AAAAAAAAABY/d2y3cqVNmXQ/s320/imagestt.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5390865711573007234" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Cjw3gNDtzIs/StAuUm1AywI/AAAAAAAAABQ/8VJn9RtBemw/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 100px; height: 114px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Cjw3gNDtzIs/StAuUm1AywI/AAAAAAAAABQ/8VJn9RtBemw/s320/images.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5390859685517642498" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;MSDS atau  material safety data sheets adalah suatu lembaran yang&lt;/span&gt;&lt;strong  style="font-weight: normal;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 255);"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt; memuat informasi mengenai sifat-sifat zat kimia, hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengunaan zat kimia, pertolongan apabila terjadi kecelakaan, penanganan zat yang berbahaya.Data dari MSDS sangat penting dalam penyimpanan, penanganan, pemakaian, pembuangan zat kimia. Data MSDS merupakan protokol standar keamanan dan keselamatan kerja.MSDS berisi informasi mengenai sifat-sifat fisik maupun sifat kimia dari suatu zat mulai dari penyimpanan, penanganan, pemakaian, pembuangan zat kimia, dampak bagi lingkungan dll.MSDS merupakan protokol keselamatan dan keaman kerja, digunakan secara luas didalam laboratorium, industri, serta pihak-pihak yang bekerja dengan zat-zat kimia.&lt;/span&gt;  &lt;div style="font-family: lucida grande;" class="storycontent"&gt;          &lt;p&gt;MSDS (Material Safety Data Sheet) bisa kita peroleh dari supplier produk yang kita beli, tapi terkadang tidak lengkap atau tidak standar. Padahal fungsi MSDS adalah agar kita :&lt;br /&gt;1. Mengetahui potensi bahan kimia&lt;br /&gt;2. Menerapkan teknologi pengendalian dalam melindungi pekerja&lt;br /&gt;3. Merencanakan pelatihan&lt;br /&gt;4. Mengembangkan rencana pengelolaan bahan kimia di tempat kerja&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Rincian isi MSDS standar meliputi&lt;/strong&gt; :&lt;/p&gt;  &lt;li&gt;&lt;strong&gt;Identifikasi bahan kimia&lt;/strong&gt; : nama bahan, sinonim, rumus kimia, kode produksi, nama dan alamat perusahaan pembuat/distributor/importir, nomor telepon keadaan darurat&lt;/li&gt;   &lt;li&gt;&lt;strong&gt;Komposisi bahan kimia&lt;/strong&gt; : deskripsi bahan/jenis, sifat, identitas, dan konsentrasi bahan yang berbahaya bagi keselamatn dan kesehatan, batas pemaparan yang tidak boleh dilampaui&lt;/li&gt;  &lt;li&gt;&lt;strong&gt;Identifikasi potensi bahaya &lt;/strong&gt;: terhadap kesehatan, dan akibatnya bagi mata, kulit, saluran cerna, pernafasan, karsinogen, teratogen, dan fungsi reproduksi&lt;/li&gt;  &lt;li&gt;&lt;strong&gt;Tindakan pertolongan pertama pada kecelakaan &lt;/strong&gt;: meliputi penyelamatan diri sebelum ada pertolongan medik, dan bila ada antidote untuk bahan kimia&lt;/li&gt;  &lt;li&gt;&lt;strong&gt;Tindakan penganggulangan kebakaran&lt;/strong&gt; : antara lain mengenai sifat bahan mudah terbakar, titik nyala, suhu nyala sendiri, batas suhu terrendah dan tertinggi mudah terbakar, media/jenis pemadam api, bahaya khusus, instruksi bagi petugas pemadam kebakaran, bahaya peledakan.&lt;/li&gt;  &lt;li&gt;&lt;strong&gt;Penanganan bila terjadi kebocoran atau tumpahan&lt;/strong&gt; : untuk jumlah yang kecil atau besar, alat pelindung diri, dan tindakan yang diperlukan bila terjadi hal yang tidak dikehendaki&lt;/li&gt;  &lt;li&gt;&lt;strong&gt;Penanganan dan penyimpanan bahan&lt;/strong&gt; : terutama mengenai cara penanganan pencegahan pemaparan kondisi tempat penimpanan bahan, penetapan bahan yang ‘incompatible’, syarat khusus penyimpanan lainnya.&lt;/li&gt;  &lt;li&gt;&lt;strong&gt;Pengendalian pemaparan dan alat pelindung diri&lt;/strong&gt; : tentang cara pengendalian teknis, penyediaan alat pelindung diri&lt;/li&gt;  &lt;li&gt;&lt;strong&gt;Sifat fisik dan kimia bahan&lt;/strong&gt; : mengenai bentuk bahan, padat/cair/gas, bau, warna, massa jenis, titik didih, titik lebur, tekanan uap, pH, daya larut, dan sebagainya&lt;/li&gt;  &lt;li&gt;&lt;strong&gt;Stabilitas dan reaktivitas&lt;/strong&gt; : dicantumkan sifat stabilitas dan reaktivitas, kondisi yang harus dihindari, bahan yang tidak boleh tercampur (incompatible), bahan dekomposisi, bahaya polimerisasi&lt;/li&gt;  &lt;li&gt;&lt;strong&gt;Informasi toksikologi&lt;/strong&gt; : mengenai nilai ambang batas, LD-50, LC-50, efek lokal, pemaparan akut, dan kronik, termasuk efek karsinogen, teratogen, reproduksi, mutagen, dan interaksi bahan dengan obat, alkohol&lt;/li&gt;  &lt;li&gt;&lt;strong&gt;Informasi ekologi&lt;/strong&gt; : karakteristik bahan yang berbahaya bagi lingkungan, dampak lingkungan, degradasi, dan bioakumulasi&lt;/li&gt;  &lt;li&gt;&lt;strong&gt;Pembuangan limbah&lt;/strong&gt; : informasi tentang teknis pembuangan limbah termasuk pembuangan wadah bekas bahan kimia&lt;/li&gt;  &lt;li&gt;&lt;strong&gt;Informasi tentang pengangkutan/transportasi bahan kimia&lt;/strong&gt; : meliputi peraturan internasional, pengangkutan melalui darat, laut dan udara&lt;/li&gt;  &lt;li&gt;&lt;strong&gt;Peraturan perundangan&lt;/strong&gt; : termasuk pemberian tanda/simbol dan label, standar dan norma yang berlaku&lt;/li&gt;  &lt;li&gt;&lt;strong&gt;Informasi lain yang perlu&lt;/strong&gt; : bagi keselamatan dan kesehatan pekerja seperti pelatihan, saran penggunan bahan, dan persyaratan, sumber informasi lebih lanjut&lt;/li&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/323191937197769501-6703126980033685606?l=faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com/feeds/6703126980033685606/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com/2009/10/msds.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/323191937197769501/posts/default/6703126980033685606'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/323191937197769501/posts/default/6703126980033685606'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com/2009/10/msds.html' title='MSDS'/><author><name>faulampung</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_Cjw3gNDtzIs/SqR3soMJJFI/AAAAAAAAAAs/gZeQB16CqFs/S220/fau+di+lantai+1+polije+office3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Cjw3gNDtzIs/StAzzXoke4I/AAAAAAAAABY/d2y3cqVNmXQ/s72-c/imagestt.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-323191937197769501.post-4662765822342270920</id><published>2009-08-31T23:00:00.000-07:00</published><updated>2009-08-31T23:00:26.027-07:00</updated><title type='text'>fungsi beberapa peralatan laboratorium</title><content type='html'>Erlenmeyer&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Untuk titrasi, untuk mereaksikan atau menyimpan sementara bahan kimia terutama zat-zat yang lebih mudah menguap (mulutnya yang kecil memudahkan untuk diitutup&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Labu ukur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Untuk membuat larutan dengan konsentrasi analitis. Bukan untuk melarutkan. Biasanya untuk melarutkan dillakukan pada gelas kimia, setelah larut sempurna, pindahkan pada labu takar dan tambahkan pelarut sampai tanda batas volume&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Gelas ukur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Untuk mengukur volume larutan atau cairan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Neraca analitis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Untuk mengukur berat bahan kimia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pipet volume atau pipet gondok (kiri)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pipet ukur dan pipet volume&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Keduanya digunakan untuk mencuplik/mengambil gravim larutan/cairan. Perbedaannya pipet volume memiliki satu jenis ukuran volume, misalnya pipet volume 5 mL, 20 mL atau 50 mL, sedangkan pipet ukur memiliki penunjuk skala volume, seperti gelas ukur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Corong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Untuk memisahkan zat padat dari pelarutnya dengan proses filtrasi/penyaringan&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt; Buchner&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Untuk memisahka zat padat dari pelarutnya dengan proses penyaringan pada keadaan vakum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Corong pisah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Untuk memisahkan dua zat cair yang tidak saling campur&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Krush&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Untuk mengabukan zat, misalnya dalam analisa gravimetri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembakar bunsen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sebagai sumber panas dalam suatu percobaan/reaksi kimia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Peralatan soxlet&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Alat untuk melakuan ekstraksi. Zat yang akan diekstrak disimpan dalam tabung A, pelarut yang digunakan untuk mengekstrak disimpan dalam labu B. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlengkapan titrasi&lt;br /&gt; Untuk menganalisa jumlah kandungan suatu zat (analisa kuantitatif) dengan cara meneteskan secara perlahan suatu larutan yang terdapat dalam buret terhadap larutan lain yang terdapat dalam erlenmeyer.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/323191937197769501-4662765822342270920?l=faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com/feeds/4662765822342270920/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com/2009/08/fungsi-beberapa-peralatan-laboratorium.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/323191937197769501/posts/default/4662765822342270920'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/323191937197769501/posts/default/4662765822342270920'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com/2009/08/fungsi-beberapa-peralatan-laboratorium.html' title='fungsi beberapa peralatan laboratorium'/><author><name>faulampung</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_Cjw3gNDtzIs/SqR3soMJJFI/AAAAAAAAAAs/gZeQB16CqFs/S220/fau+di+lantai+1+polije+office3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-323191937197769501.post-2520404138973487218</id><published>2009-08-23T18:12:00.001-07:00</published><updated>2009-08-23T18:17:17.789-07:00</updated><title type='text'>LABU UKUR</title><content type='html'>Labu Ukur adalah sebuah perangkat yang meiliki kapasitas antara 5 mL sampai 5 L dan biasanya instrumen ini digunakan untuk mengencerkan zat tertentu hingga batas leher labu ukur. Alat ini biasanya digunakan untuk mendapatkan larutan zat tertentu yang nantinya hanya digunakan dalam ukuran yang terbatas hanya sebagai sampel dengan menggunakan pipet. Dalam sistem pengenceran, untuk zat yang tidak berwarna, penambahan aquadest sampai menunjukkan garis meniskus berada di leher labu. Untuk zat yang berwarna, penambahan aquadets hingga dasar meniskus yang menyentuh leher labu ( meniskus berada di atas garis leher ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum menggunakan instrumen ini, labu ukur harus dicuci terlebih dahulu. Lebih baik menggunakan sabun agar zat – zat yang tidak dibutuhkan dapat terlarut dan akhirnya terbuang. Dalam keadaan bagaimanapun, labu ukur yang kering sangatlah baik untuk digunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangka melakukan kerja rutin di laboratorium, tidaklah luar biasa untuk memiliki larutan encer atau mengurangi kepekatan mereka dengan menambahkan sejumlah pelarut. Banyak bahan kimia laboratorium dibeli dalam bentuk larutan air yang pekat karena inilah cara pembelian yang paling ekonomis. Tetapi biasanya bahan kimia ini terlalu pekat untuk langsung digunakan, dan karenanya harus diencerkan. Proses pengenceran melibatkan pencampuran suatu larutan pekat dengan pelarut tambahan untuk memberikan volume akhir yang lebih besar. Selama proses ini, banyak mol yang dalam larutan tetap, dan hanya volumenya yang bertambah. Fakta ini mebentuk dasar untuk mengerjakan soal yang mebahas pengenceran. Ada beberapa langkah dalam mempersiapkan suatu larutan dengan molaritas tertentu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zat terlarut ditimbang teliti ke dalam sebuah labu volumetri ( labu ukur ). &lt;br /&gt;Ditambahkan air suling. &lt;br /&gt;Campuran digoyang melingkar ( diolek ) untuk melarutkan zat terlarut &lt;br /&gt;Setelah ditambahkan air lagi, digunakan pipet tetes untuk menambahkan air dengan hati – hati sampai volume permukaan cairan tepat berimpit dengan tanda lingkaran pada leher labu. &lt;br /&gt;Labu disumbat dan kemudian dikocok agar larutan seragam. (wikipedia.com)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/323191937197769501-2520404138973487218?l=faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com/feeds/2520404138973487218/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com/2009/08/labu-ukur_23.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/323191937197769501/posts/default/2520404138973487218'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/323191937197769501/posts/default/2520404138973487218'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com/2009/08/labu-ukur_23.html' title='LABU UKUR'/><author><name>faulampung</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_Cjw3gNDtzIs/SqR3soMJJFI/AAAAAAAAAAs/gZeQB16CqFs/S220/fau+di+lantai+1+polije+office3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-323191937197769501.post-7053810975286989191</id><published>2009-08-23T18:12:00.000-07:00</published><updated>2009-08-23T18:17:17.233-07:00</updated><title type='text'>LABU UKUR</title><content type='html'>Labu Ukur adalah sebuah perangkat yang meiliki kapasitas antara 5 mL sampai 5 L dan biasanya instrumen ini digunakan untuk mengencerkan zat tertentu hingga batas leher labu ukur. Alat ini biasanya digunakan untuk mendapatkan larutan zat tertentu yang nantinya hanya digunakan dalam ukuran yang terbatas hanya sebagai sampel dengan menggunakan pipet. Dalam sistem pengenceran, untuk zat yang tidak berwarna, penambahan aquadest sampai menunjukkan garis meniskus berada di leher labu. Untuk zat yang berwarna, penambahan aquadets hingga dasar meniskus yang menyentuh leher labu ( meniskus berada di atas garis leher ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum menggunakan instrumen ini, labu ukur harus dicuci terlebih dahulu. Lebih baik menggunakan sabun agar zat – zat yang tidak dibutuhkan dapat terlarut dan akhirnya terbuang. Dalam keadaan bagaimanapun, labu ukur yang kering sangatlah baik untuk digunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangka melakukan kerja rutin di laboratorium, tidaklah luar biasa untuk memiliki larutan encer atau mengurangi kepekatan mereka dengan menambahkan sejumlah pelarut. Banyak bahan kimia laboratorium dibeli dalam bentuk larutan air yang pekat karena inilah cara pembelian yang paling ekonomis. Tetapi biasanya bahan kimia ini terlalu pekat untuk langsung digunakan, dan karenanya harus diencerkan. Proses pengenceran melibatkan pencampuran suatu larutan pekat dengan pelarut tambahan untuk memberikan volume akhir yang lebih besar. Selama proses ini, banyak mol yang dalam larutan tetap, dan hanya volumenya yang bertambah. Fakta ini mebentuk dasar untuk mengerjakan soal yang mebahas pengenceran. Ada beberapa langkah dalam mempersiapkan suatu larutan dengan molaritas tertentu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zat terlarut ditimbang teliti ke dalam sebuah labu volumetri ( labu ukur ). &lt;br /&gt;Ditambahkan air suling. &lt;br /&gt;Campuran digoyang melingkar ( diolek ) untuk melarutkan zat terlarut &lt;br /&gt;Setelah ditambahkan air lagi, digunakan pipet tetes untuk menambahkan air dengan hati – hati sampai volume permukaan cairan tepat berimpit dengan tanda lingkaran pada leher labu. &lt;br /&gt;Labu disumbat dan kemudian dikocok agar larutan seragam. (wikipedia.com)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/323191937197769501-7053810975286989191?l=faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com/feeds/7053810975286989191/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com/2009/08/labu-ukur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/323191937197769501/posts/default/7053810975286989191'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/323191937197769501/posts/default/7053810975286989191'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com/2009/08/labu-ukur.html' title='LABU UKUR'/><author><name>faulampung</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_Cjw3gNDtzIs/SqR3soMJJFI/AAAAAAAAAAs/gZeQB16CqFs/S220/fau+di+lantai+1+polije+office3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-323191937197769501.post-181102784075661724</id><published>2009-08-23T17:31:00.000-07:00</published><updated>2009-08-23T18:04:21.121-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='beaker glass'/><title type='text'>MENGGUNAKAN BEAKER GLASS</title><content type='html'>Beaker glass adalah sebuah wadah penampung yang digunakan untuk mengaduk, mencampur, dan memanaskan cairan. Beaker secara umum berbentuk silinder dengan dasar yang bidang dan tersedia dalam berbagai ukuranbeaker glass atau biasa disebut gelas kimia, dalam laboratorium dapat digunakan sebagai wadah untuk memanaskan bahan terutama larutan atau dapat juga digunakan untuk wadah untuk membuat larutan. beaker glass tersedia dalam berbagai ukuran, yaitu ukuran 25 mL, 50 mL, 100 mL, 150 mL, 250 mL, 500 mL, 1 L, 2 L dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;beaker glass biasa digunakan untuk membuat larutan-larutan seperti larutan HCl, NaOH, asam sulfat dan sebagainya. dalam membuat larutan dengan beaker glass harus diperhatikan K3nya, yaitu apabila membuat larutan asam encer maka didalam beakerglass diletakkan sejumlah aquadest terlebih dahulu kemudian dimasukkan sejumlah asam sesuai dengan perhitungan takaran. yang dimaksud dengan takaran disini adalah seberapa banyak asam yang akan dipipet untuk membuar suatu larutan dengan konsentrasi tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;beaker glass yang berfungsi sebagai pemanas, maksudnya adalah beaker glass digunakan untuk memeanaskan bahan atau larutan, misalnya memanaskan aquadest untuk membuat larutan NaOH.&lt;br /&gt;beaker glass tersedia dalam bermacam-macam merk. . . .ada merk pyrek, iwaki, duran, schott, dan sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beaker dapat terbuat dari kaca (umumnya kaca borosilikat ataupun dari plastik).&lt;br /&gt;Beaker yang digunakan untuk menampung zat kimia yang korosif seperti asam atau zat-zat lainnya yang sangat reaktif biasanya terbuat dari PTFE ataupun bahan-bahan yang reaktivitasnya rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beaker dapat ditutup dengan kaca pengamat untuk mencegah kontaminasi dan penyusutan zat. Beker seringkali dibubuhi dengan ukuran yang terdapat pada sisi beaker yang mengindikasikan volume tertampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;selamat menunaikan ibadah puasa 1430 H.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/323191937197769501-181102784075661724?l=faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com/feeds/181102784075661724/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com/2009/08/menggunakan-beaker-glass.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/323191937197769501/posts/default/181102784075661724'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/323191937197769501/posts/default/181102784075661724'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com/2009/08/menggunakan-beaker-glass.html' title='MENGGUNAKAN BEAKER GLASS'/><author><name>faulampung</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_Cjw3gNDtzIs/SqR3soMJJFI/AAAAAAAAAAs/gZeQB16CqFs/S220/fau+di+lantai+1+polije+office3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-323191937197769501.post-1157248058622025886</id><published>2009-07-30T23:07:00.000-07:00</published><updated>2009-07-30T23:13:50.195-07:00</updated><title type='text'>teknik penggunaan alat gelas di laboratorim</title><content type='html'>TEKNIK PENGGUNAAN PERALATAN LABORATORIUM DALAM KIMIA ANALITIK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Kunci sukses kerja di laboratorium: menggunakan alat gelas dengan tepat (accurate),  cermat (precision), andal (reliable), mantap (stable), cepat (Quikly), dan selamat (safety) &lt;br /&gt;• Teknik pengoperasian dan perawatan alat gelas, merupakan basik (fundamen) kemampuan, untuk dapat mengoperasikan alat-alat yang canggih. &lt;br /&gt;Alat dasar laboratorium dikelompokan menjadi 3 yaitu:&lt;br /&gt;– alat gelas (glass ware equipment),&lt;br /&gt;– alat bukan gelas (non gelas equipment) pendukung &lt;br /&gt;– alat pemanas (heating equipment). &lt;br /&gt;– Neraca (balance)&lt;br /&gt;Peralatan gelas yang  dimaksud teridiri dari &lt;br /&gt;- peralatan gelas dasar : gelas beaker, gelas ukur dll. &lt;br /&gt;- peralatan ukur : pipet ukur, pipet volume, labu ukur &lt;br /&gt;- peralatan analisis : thermometer, piknometer dll.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/323191937197769501-1157248058622025886?l=faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com/feeds/1157248058622025886/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com/2009/07/teknik-penggunaan-alat-gelas-di.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/323191937197769501/posts/default/1157248058622025886'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/323191937197769501/posts/default/1157248058622025886'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com/2009/07/teknik-penggunaan-alat-gelas-di.html' title='teknik penggunaan alat gelas di laboratorim'/><author><name>faulampung</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_Cjw3gNDtzIs/SqR3soMJJFI/AAAAAAAAAAs/gZeQB16CqFs/S220/fau+di+lantai+1+polije+office3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-323191937197769501.post-5400348834727143942</id><published>2009-07-07T00:26:00.000-07:00</published><updated>2009-07-07T00:34:35.527-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>selasa, 07 juli 2009&lt;br /&gt;hiks.. hiks sedihhh.. aku gak bisa ikut nyontreng besok....... padahal aku udah 20 tahun. tapi susah euy mau nyontreng kalau lagi study di kota orang.....susah urus ini urus itu. sayang juga ya. padahal temen-temen ku banyak yang dari jauh dan mereka semua gak bisa pilih. sayang ya nasib mahasiswa di kota orang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/323191937197769501-5400348834727143942?l=faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com/feeds/5400348834727143942/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com/2009/07/selasa-07-juli-2009-hiks.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/323191937197769501/posts/default/5400348834727143942'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/323191937197769501/posts/default/5400348834727143942'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com/2009/07/selasa-07-juli-2009-hiks.html' title=''/><author><name>faulampung</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_Cjw3gNDtzIs/SqR3soMJJFI/AAAAAAAAAAs/gZeQB16CqFs/S220/fau+di+lantai+1+polije+office3.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-323191937197769501.post-5343978184558416756</id><published>2009-07-05T09:03:00.000-07:00</published><updated>2009-07-05T19:03:44.434-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='K3'/><title type='text'>K3</title><content type='html'>Pengertian K3 atau keselamatan dan kesehatan kerja&lt;br /&gt;Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah suatu pemikiran  dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmani maupun rohaniah tenaga kerja (laboran/analis) pada khususnya dan manusia pada umumnya, hasil karya dan budayanya menuju masyarakat adil dan makmur.  Keselamatan kerja adalah keselamatan yang berkaitan dengan mesin, pesawat, alat kerja, bahan dan proses pengolahannya, landasan tempat kerja dan lingkungannya serta cara-cara melakukan pekerjaan &lt;br /&gt;Adapun tujuan dari K3 antara lain:&lt;br /&gt;• Secara keilmuan K3 merupakan ilmu pengetahuan dan penerapannya dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja. &lt;br /&gt;• Setiap tenaga kerja/laboran dan orang lainnya yang berada di laboratorium mendapat perlindungan atas keselamatannya.&lt;br /&gt;• Setiap bahan kimia atau peralatan dapat dipakai, dipergunakan secara aman dan efisien. &lt;br /&gt;• Proses pengujian berjalan lancar.&lt;br /&gt;• Kondisi tersebut di atas dapat dicapai antara lain bila kecelakaan termasuk kebakaran, peledakan dan penyakit akibat kerja dapat dicegah dan ditanggulangi &lt;br /&gt;• Melindungi laboran/analis atau tenaga kerja lainnya atas hak keselamatannya dalam melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan hidup dan meningkatkan produksi serta produktivitas . &lt;br /&gt;• Menjamin keselamatan setiap orang lain yang berada di tempat kerja (laboratorium).&lt;br /&gt;• Sumber produksi dipelihara dan dipergunakan secara aman dan efisien&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/323191937197769501-5343978184558416756?l=faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com/feeds/5343978184558416756/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com/2009/07/k3.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/323191937197769501/posts/default/5343978184558416756'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/323191937197769501/posts/default/5343978184558416756'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com/2009/07/k3.html' title='K3'/><author><name>faulampung</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_Cjw3gNDtzIs/SqR3soMJJFI/AAAAAAAAAAs/gZeQB16CqFs/S220/fau+di+lantai+1+polije+office3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-323191937197769501.post-8876749478993390862</id><published>2009-07-02T11:45:00.000-07:00</published><updated>2009-07-02T22:01:10.843-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='prakata'/><title type='text'>prakata</title><content type='html'>assalamu'alaikum wr.wb.&lt;br /&gt;namaku fau. aku lulus SMK tahun 2007 dari sebuat SMK di metro Lampung. dari sana aku ngelanjutin kuliah di sebuah kota kecil Cianjur Jawa Barat dengan mengambil jurusan Manajemen Agribisnis dengan konsentrasi Pengendalian Mutu Agroindustri. jurusan ini mendalami tentang manajemen mutu laboratorium, dasar-dasar pengolahan,dan yang paling banyak n yang bakal di posting tu tentang analisa pangan dan pertanian. waktu ngambil jurusan itu sech aku rada takut juga soalnya kata kakak tingkat atau kata orang itu jurusan susah. tapi aku udah yakin sech, gak papa khan kayaknya tantangan aja gitu. lagian menurut aku suatu kebanggaan tersendiri kalau aku bisa ngejalanin sesuatu yang orang bilang itu susah hehehe. temanku di jurusan ini dulunya lumayan banyak hampir 30 orang. tapi gak banyak yang bertahan. hingga sampai saat ini temanku yang masih bertahan ada 17 orang n semoga akan selalu segini sampai btar lulus. amiin. temanku antara lain: Adit, Abay, Betha, Edrah perez,Koes, Farid, Leni, Ceu'Mar, Chica,Ryen, Rha, Yeye, Yedih, Sandi, Stefay,n Mona. mereka ini temen-temen yang selalu bareng ma aku n kita semua bersaudara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;waktu udah ngejalanin,, aku bisa sedikit nyimpulin kalau itu emang jurusan yang agak berbahaya. aku bilang berbahaya karena setiap hari kita selalu berhubungan dengan bahan kimia yang setiap saat dapat mematikan kita. tapi asalkan kita peduli dengan diri kita sendiri dan mematuhi K3 insyaallah akan baik-baik aja. oya ternyata lama-lama kimia analisis itu menarik sekali. oya ini hari pertama aku punya blog. udah dulu ah. wassalam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/323191937197769501-8876749478993390862?l=faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com/feeds/8876749478993390862/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com/2009/07/prakata.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/323191937197769501/posts/default/8876749478993390862'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/323191937197769501/posts/default/8876749478993390862'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faulampung-sahabatlabkimia.blogspot.com/2009/07/prakata.html' title='prakata'/><author><name>faulampung</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_Cjw3gNDtzIs/SqR3soMJJFI/AAAAAAAAAAs/gZeQB16CqFs/S220/fau+di+lantai+1+polije+office3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
