laporan praktikum pengujian mutu buah dan sayur

LAPORAN PRAKTIKUM
PENGUJIAN MUTU BUAH DAN SAYUR


Nama : Fauziah
NIM : K4207111
Mata kuliah : spektrofotometri
Semester : V
Tanggal praktikum : Agustus 2009
Tanggal laporan : Agustus 2009
Dosen : ir. Hefni, M.Si


PENDIDIKAN DIPLOMA-IV VEDCA
JOINT PROGRAM POLITEKNIK NEGERI JEMBER
PUSAT PENGEMBANGAN PEMBERDAYAAN PENIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN PERTANIAN
CIANJUR
2009

PENGUJIAN MUTU BUAH DAN SAYUR

1. TUJUAN
Menentukan mutu buah dan sayur secara kimia dan organoleptik
2. PRINSIP
• Prinsip penentuan kadar vitamin C
Oksidasi analat oleh I2 sehingga I2 tereduksi menjadi ion iodide (I-).
• Prinsip penentuan derajat keasaman
Penetralan larutan sampel yang mengandung asam dengan titrasi menggunakan basa (NaOH)
• Prinsip pengujian organoleptik
Uji organoleptik dilakukan dengan menggunakan panca indra melalui pengamatan dan penciuman terhadap sifat-sifat fisik buah dan sayur
3. TINJAUAN PUSTAKA
A. Buah dan sayur
• Apel

Buah apel kaya akan kandungan vitamin dan mineral. Buah ini mudah didapatkan karena dijual di berbagai tempat penjualan buah. Berbagai jenis dan warna buah apel ada di mana-mana. Apel banyak disukai karena rasanya yang khas. Berdasarkan penelitian, makan buah apel setiap hari akan terhindar dari penyakit. Apel memiliki banyak khasiat yang bermanfaat bagi tubuh. Apel memiliki kandungan vitamin A, B1, B2, B3, B5, B6, B9 dan vitamin C. Apel kaya dengan mineral antara lain kalsium, magnesium, potesium, zat besi dan zinc (http://herbalupdate.blogspot.com).
• Kentang
Tanaman kentang (Solanum tuberosum Linn.) berasal dari daerah subtropika, yaitu dataran tinggi Andes Amerika Utara. Daerah yang cocok untuk budi daya kentang adalah dataran tinggi atau pegunungan dengan ketinggian 1.000-1.300 meter di atas permukaan laut, curah hujan 1.500 mm per tahun, suhu rata-rata harian 18-21oC, serta kelembaban udara 80-90 persen. Kentang memiliki kadar air cukup tinggi, yaitu sekitar 80 persen. Itulah yang menyebabkan kentang segar mudah rusak, sehingga harus disimpan dan ditangani dengan baik. Pengolahan kentang menjadi kerupuk, tepung, dan pati, merupakan upaya untuk memperpanjang daya guna umbi tersebut (http://herbalupdate.blogspot.com).
• Pisang
Pisang (Musa paradisiaca) ternyata telah menjadi bagian dari diet manusia
sejak ratusan tahun silam. Penelitian fosil di Papua Nugini menunjukkan
adanya domestikasi dan budidaya tanaman ini lebih dari 10.000 tahun lalu.
Seluruh bagian tanaman ini dimanfaatkan, mulai dari akar untuk obat-obatan,
batang untuk rakit dan tali-temali, daun untuk pembungkus, dan tentu saja
buahnya untuk dimakan.
Selain kandungan karbohidrat yang tinggi, pisang juga kaya akan vitamin (A,
B1,B2,B6 dan C), serta mineral (potasium dan sodium) dengan kadar lemak
rendah. Karena rendah kadar lemaknya, pisang merupakan buah yang banyak
disarankan bagi orang tua (http://herbalupdate.blogspot.com).
• Kubis
Kubis atau kol untuk pengobatan herbal kanker tumor atau dalam bahasa sundanya engkol ternyata banyak mengandung vitamin C, serat kasar dan indolum untuk pengobatan tradisional kanker herbal. Baik indolum ataupun serat kasarnya ternyata dapat mencegah dan berguna untuk pengobatan kanker payudara dan pengobatan herbal kanker usus serta kanker tradisional. Zat indolum untuk pengobatan herbal kanker tradisional yang ada pada kubis yang ternyata dapat menjadi pengobatan kanker tradisional, walaupun pola konsumsi kubis herbal kanker memerlukan penentuan kadar yang tepat (http://herbalupdate.blogspot.com).
B. Derajat keasaman
Derajat kelarutan asam (atau derajat disosiasi asam, dilambangkan dengan pKa) dalam kimia digunakan sebagai ukuran kelarutan suatu asam (atau basa) dalam pelarut air dengan kondisi standar (1 atm dan 25°C). Nilai pKa didefinisikan sebagai "minus logaritma terhadap konsentrasi ion H+ dalam larutan". Definisi ini menyebabkan konsentrasi yang lebih tinggi memberikan nilai yang lebih rendah.
Ukuran kelarutan diukur dari banyaknya ion H+ (dalam mol per liter larutan atau molar) terlarut. Air murni memiliki rumus kesetimbangan kelarutan:
H2O <==> H+ + OH-. (www.wikipedia.co.id)
C. Vitamin C
Vitamin C atau asam askorbat mempunyai berat molekul 178 dengan rumus molekul C6H806. Dalam bentuk Kristal tidak berwarna, titik cair 190-1920C.bersifat larut dalam air sedikit larut dalam aseton atau alcohol yang mempunyai berat molukul rendah. Vitamin C sukar larut dalam kloroform, ether dan benzene. Vitamin C dengan logam akan membentuk garam. Sifat asam ditentukan oleh ionisasi enolgroup pada atom C nomor 3. Pada pH rendah vitamin C lebih stabil daripada pH tinggi. Vitamin C mudah teroksidasi lebih-lebih apabila terdapat katalisator Fe, Cu, enzim askorbat oksidase, sinar dan temperature yang tinggi. Larutan encer vitamin C pada pH kurang dari 7,5 masih stabil apabila tidak ada katalisator seperti diatas. Oksidasi vitamin C akan terbentuk asam dehidroasam askorbat (Sudarmadji, 2003).
D. Uji organoleptik
Uji organoleptik didasarkan pada kegiatan penguji-penguji rasa (panelis) yang pekerjaannya mengamati, menguji, dan menilai secara organoleptik. Sensoris berasal dari kata “sense” yang berarti timbulnya rasa, dan timbulnya rasa selalu dihubungkan dengan panca indera. Leptis berarti menangkap atau menerima. Jadi pengujian sensoris atau organoleptik mempunyai pengertian dasar melakukan suatu kejadian yang melibatkan pengumpulan data-data, keterangan-keterangan atau catatan mekanis dengan tubuh jasmani sebagai penerima (Noni dan Lily, 2008).
4. ALAT DAN BAHAN
A. ALAT
 Neraca
 Pipet tetes
 Labu ukur 100 mL
 Pipet ukur 25 mL
 Buret
 Beaker glass 100 mL dan 50 mL 1 buah
 Hand refraktometer
 Botol semprot
 Pipet filler
B. BAHAN
 Sampel: apel, pisang, kubis dan kentang
 Larutan iod 0,01 N
 Aquadest
 NaOH 0,1 N
 Indikator PP
 Larutan amilum 1%

5. PROSEDUR KERJA
A. Prosedur kerja penentuan kadar vitamin C
Menyiapkan alat dan bahan.
Menimbang sebanyak 5 g sari buah kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL lalu mengencerkannya sampai tanda tera
Melakukan pengocokan hingga homogen
Memipet 25 mL larutan sampel diatas kemudian memasukkannya dalam Erlenmeyer.
Menambahkan 1 mL indikator amilum 1% lalu titrasi dengan larutan iod 0,01 N sehingga berubah dari tidak berwarna menjadi biru.

B. Prosedur kerja penentuan derajat keasaaman
Menyiapkan alat an bahan
Menimbang 10 g contoh kemudian melarutkan dalam air suling 50 mL
Menambahkan 5 tetes indikator PP
Melakukan titrasi dengan NaOH 0,1 N sampai terjadi perubahan warna

6. DATA HASIL PENGAMATAN
Jenis sampel : buah-buahan dan sayur-sayuran
Jenis pengujian : vitamin C, derajat keasamaan dan uji organoleptik
Metode : vitamin C secara iodometri dan derajat keasamaan secara asidi-alkalimetri
A. DATA HASIL UJI VITAMIN C
No sampel g sampel N iod mL iod % vitamin C Rata-rata
1
2 Pisang
pisang 5,087
5,087 0,01
0,01 4,7
4,8 0,325
0,332 0,329
3
4 Apel
apel 5,033
5,033 0,01
0,01 3,9
3,7 0,2727
0,2587 0,2657
5
6 Kubis
kubis 5,110
5,110 0,01
0,01 4
4,1 0,2755
0,2824 0,2789
7
8 Kentang
kentang 5,058
5,058 0,01
0,01 2,2
2 0,15
0,14 0,145




B. DATAA HASIL UJI DERAJAT KEASAMAN
No sampel g sampel N NaOH mL NaOH % der.asam Rata-rata
1
2 Pisang
pisang 10,060
10,041 0,1
0,1 3,1
3,6 3,0815
3,5853 3,3334
3
4 Apel
apel 10,053
10,018 0,1
0,1 0,5
0,5 0,4974
0,4991 0,4982
5
6 Kubis
kubis 10,017
10,017 0,1
0,1 2,1
2,2 2,0964
2,1962 2,1463
7
8 Kentang
kentang 10,048
10,258 0,1
0,1 5,7
4,9 5,68
4,78 5,23

C. DATA HASIL UJI ORGANOLEPTIK
No sampel rasa aroma warna
1
2 Pisang
pisang manis Wangi khas pisang putih kekuningan, kulit kuning
3
4 Apel
apel manis Aroma khas apel Hijau
5
6 Kubis
kubis Khas kubis segar Khas kubis, tidak menyengat Putih kehijauan
7
8 Kentang
kentang Rasa kentang mentah Khas kentang kecoklatan

7. PEMBAHASAN
Praktikum ini bertujuan untuk menetapkan kadar vitamin C dan derajat keasaman pada beberapa buah-buahan dan sayur-sayuran. Kadar vitamin C ditetapkan berdasarkan prinsip reduksi oksidasi yaitu dengan menggunakan titrasi iodimetri atau titrasi langsung. Dalam hal ini I2 atau iod adalah sebagai titrant. Prinsip titrasi ini adalah analat atau contoh dioksidasi oleh I2 sehingga I2 tereduksi menjadi ion iodida. I2 merupakan oksidator yang tidak terlalu kuat sehingga hanya zat-zat yang merupakan reduktor yang cukup kuat yang dapat dititrasi. Indicator yang digunakan adalah amilum dengan perubahan warna dari tak berwarna menjadi biru.
Iod sebagai zat padat skar larut dalam air tetapi sangat mudah larut dalam larutan KI karena membentuk I3- sebagai berikut:
I2 + I- I3-
Larutan iod dibuat dengan KI sebagai pelarut. Larutan iod ini bersifat tidak stabil sehingga perlu distandarisasi berulangkali terutama apabila akan dipakai sebagai titrant. Ketidakstabilan larutan iod disebabkan oleh penguapan iod, reaksi iod dengan karet, gabus dan bahan organic lain yang mungkin masuk dalam larutan lewat debu dan asap, serta disebabkan oleh oksidasi olleh udara pada pH rendah. Oksidasi ini dipercepat oeh cahaya dan panas. Maka hendaknya larutan ini disimpan pada tempat yang sejuk dengan botol berwarna gelap. Selain itu juga harus dihindarkan kontak dengan bahan organic maupun gas mereduksi seperti SO2 dan H2S. Bahan baku primer yang digunakan untuk menstandarisasi iod adalah Na2S2O3 dan As2O3.
Penetapan kadar vitamin C dilakukan dengan terlebih dahulu melakukan preparasi sampel. Preparasi sampel dilakukan dengan cara menghaluskan sampel dengan menggunakan mortar atau pada sampel yang tidak dapat dihaluskan dengan mortar dapat menggunakan alternatif lain yaitu memarutnya. Selanjutnya menimbang 5 g sampel yang telah dihaluskan lalu memasukkannya dalam labu ukur 100 mL. encerkan dengan aquadest sampai tanda tera. Tujuan dari pengenceran ini adalah untuk mendapatkan konsentrasi analat yang sekecil mungkin. Dalam 5 g sampel buah atau sayur dimungkinkan terdapat banyak vitamin C dalam jumlah pekat sehingga perlu diencerkan lebih dahulu. Kocok agar larutan homogen. Pipet sebanyak 5 mL larutan sampel kedalam Erlenmeyer. Tambahkan 1 mL indikator amilum 1% kemudian dititrasi dengan larutan iodium 0,01 N.
Reaksi yang terjadi didalam penetapan kadar vitamin C yaitu:
O O
C C
C OH + I2 C C + 2 H+ + 2 I-
C OH C O
H C H C
HO C H HO C H
H C H CH2OH
OH
Asam askorbat
Data yang diperoleh dihitung dengan rumus:
% vitamin C = Fp * mL titrasi * N I2 * 88 * 100%
Mg sampel
Keterangan:
FP adalah faktor pengenceran, dalam hal ini adalah 100/25=4.
N iod adalah normalitas iodium atau I2 setelah dilakukan standarisasi.
88 adalah berat molekul asam askorbat.
Setelah dilakukan uji vitamin C, didapatkan data bahwa berat sampel (misalnya pisang) adalah 5,087 g, mL titrasi iod adalah 4,7 dan 4,8 mL dengan normalitas I2 0,01 N dan faktor pengenceran 4, kadar vitamin C dapat dihitung:
% vitamin C = 4,7 * 4 * 0,01 * 88 * 100%
5087
= 0,325 %
% vitamin C = 4,8 * 4 * 0,01 * 88 * 100%
5087
= 0,332%
Sehingga apabila dirata-ratakan kadar vitamin C menjadi 0,0,329%. Pada sampell yang lain pun dilakukan perhitungan seperti diatas.
Seperti yang dicantumkan dalam data pengamatan bahwa kadar vitamin C pisang 0,329%, kadar vitamin C apel 0,2657%, kadar vitamin C kubis 0,2789% dan kadar vitamin C kentang 0,145%.
Vitamin C merupakan vitamin yang diperlukan oleh tubuh untuk meningkatkan system imunitas tubuh serta berfungsi sebagai antioksidan yang dapat menangkall senyawa radikal bebas penyebab penuaan serta munculnya sel-sel kanker.. Kebutuhan vitamin C yang tercukupi dapat menurunkan resiko terkena flu. Vitamin C mudah larut dalam air sehingga apabila terjadi kelebihan vitamin C akan dibuang melalui urin. Kebutuhan vitamin C setiap orang berbeda-beda tergantung pada daya tahan tubuhnya masing-masing.
Kekurangan vitamin ini dapat menyebabkan gusi berdarah, sariawan, nyeri otot atau gangguan syaraf. Kekurangan lebih lanjut mengakibatkan anemia, sering mengalami infeksi dan kulit kasar. Sementara kelebihan vitamin C dapat menyebabkan diare. Bila kelebihan vitamin C akibat penggunaan suplemen dalam waktu yang cukup lama dapat mengakibatkan batu ginjal, sedangkan bila kelebihan vitamin C yang berasal dari buah-buahan umumnya tidak menimbulkan efek samping.
Makanan yang mengandung vitamin C umumnya adalah buah-buahan dan sayuran. Buah yang mengandung vitamin C tidak selalu berwarna kuning, misalnya pada jambu biji yang merupakan buah dengan kandungan vitamin C paling tinggi yang dapat kita konsumsi. Bahkan, pada beberapa buah, kulitnya mengandung vitamin C lebih tinggi daripada buahnya. Misalnya pada kulit buah apel dan jeruk walaupun tidak semua kulit buah bisa dimakan.
a. pisang
Buah pisang mempunyai kandungan karbohidrat yang tinggi. Selain itu pisang juga kaya akan vitamin (A,B1,B2,B6 dan C), serta mineral (potasium dan sodium) dengan kadar lemak rendah. Selain cocok untuk diet rendah lemak, buah ini baik pula untuk mereka yang mengalami masalah pencernaan seperti peptik ulkus, in coelioe disesse, dan in colitis. Beberapa komponen penting dalam pisang bersifat sebagai
angiotensin- converting enzyme (ACE) inhibitors. Enzim ini mengatur pelepasan
angiotensin- 2 yang merupakan substansi penyebab meningkatnya tekanan darah
melalui konstraksi pembuluh darah.
Tekanan darah dalam tubuh pun dapat dikontrol melalui kalium yang terkandung
pada pisang. Per 100 g pisang matang tersimpan 400 mg kalium. Kalium
merupakan salah satu mineral yang dapat membantu menurunkan tekanan darah.
Begitu juga dengan magnesium yang selain dapat membantu menurunkan tekanan
darah juga mencegah denyut jantung tidak teratur. Sementara itu kromium
dalam pisang merupakan suatu mikronutrisi untuk mendorong aktivitas enzim
dalam metabolisme glukosa untuk energi dan sintesis asam lemak dan
kolesterol. Daging buah pisang sangat lembut serta mengandung lemak dan minyak sehingga menjadikan buah ini mudah dicerna tanpa menimbulkan banyak masalah. Baik pisang mentah maupun pisang matang apabila kulitnya di kupas akan terjadi browning atau pencoklatan. Pencoklatan ini disebabkan oleh enzim poliphenol atau phenolase.
b. Apel
Buah apel selain dimakan langsng juga baik dikonsumsi dalam bentuk jus karena kandungan vitamin dan gizinya yang tinggi. Satu gelas jus apel mengandung 22mg fosfor, 15mg kalsium, 15mg zat besi, 250mg potasium, 15mg sodium, sedikit Vitamin B kompleks, 2mg Vitamin C, dan 20 I.U. Vitamin A per 100 gram jus apel.
Manfaat jus apel bagi kesehatan adalah sebagai berikut :
1. Menurunkan kolesterol dan tekanan darah.
2. Meningkatkan HDL atau high density lipoprotein.
3. Menstabilkan gula darah.
4. Memperlancar pencernaan.
5. Memperkuat jantung dan sebagai agen antikanker.
6. Mengurangi nafsu makan.
7. Membantu menurunkan berat badan.
8. Memperkuat ginjal.
Khasiat apel terletak pada kandungan karoten dan pektinnya yang merupakan serat yang larut dalam air. Pektin berperan menurunkan kadar kolesterol jahat atau LDL yang dapat menyumbat pembuluh darah. Pada saat yang sama, pektin juga menaikkan kadar kolesterol baik atau HDL. Semakin tinggi tingkat HDL seseorang, semakin rendah orang tersebut beresiko terkena penyakit jantung. Kerja pektin yang terdapat dalam jus apel sangat cepat. Karena itu, begitu selesai meminum jus apel, proses pembuangan lemak langsung dimulai.
Jika sudah berada di dalam tubuh, pektin yang terkandung dalam apel akan mengikat air secara kuat. Kemudian pektin menyerap substansi air itu dan menggunakannya untuk membebaskan sel dari gumpalan-gumpalan lemak. Pektin merupakan salah satu tipe serat kasar yang mempunyai beberapa keuntungan karena bentuknya yang menyerupai gel. Selain itu pektin juga dapat membantu memperbaiki otot pencernaan dan mendorong sisa makanan pada saluran pembuangan. Pektin juga terkandung dalam obat antidiare Kaopectate. Karena itu pektin juga berkhasiat untuk menghilangkan diare. Pektin juga dapat menyerap air berlebih dalam usus, memperlunak feses, mengikat dan menghilangkan racun dan membasmi kuman dalam perut dan usus. Jus apel juga dapat meringankan radang sendi dan arthritis.
Sama halnya dengan buah pisang, apel juga mudah sekali mengalami browning enzimatis yaitu browning yang disebabkan oleh enzim. Enzim yang berperan adalah phenolase atau poliphenol. Ketika apel dikupas atau di belah maka enzim phenolase yang terdapat didalam buah apel akan bereaksi dengan udara menghasilkan senyawa yang berwarna coklat. Untuk mencegah terjadinya browning dapat dilakukan dengan merendamnya dengan air atau larutan vitamin C atau larutan yang berPH asam. Hal ini disebabkan enzim tidak tahan pada kadar asam. Terjadinya browning tidak mengurangi rasa pada apel namun penampakannya menjadi tidak indah.
c. Kubis
Kubis atau kol baik indolum ataupun serat kasarnya dapat mencegah dan berguna untuk pengobatan kanker payudara dan pengobatan herbal kanker usus serta kanker tradisional. Zat indolum untuk pengobatan tradisional herbal kanker bila dikonsumsi sesuai takaran dapat menjadi pengobatan herbal kanker, tetapi bila dikonsumsi dalam jumlah yang tidak terbatas dapat menimbulkan efek negatif. Hal ini disebabkan oleh timbulnya gas asam karbonat, hasil dari fermentasi kubis yang tidak dapat keluar dari perut.
Asam karbonat bersama dengan indolum akan menimbulkan sakit pada lambung. Selain fungsinya untuk menjadi pengobatan kanker tradisional dan kanker usus serta kanker tumor, jus kubis mentah yang diminum setengah gelas perhari dapat meredakan nyeri pada maag, sebagai pengobatan tumor tradisional dan kanker herbal karena vitamin U dan klorofil yang masih utuh. Vitamin U-nya meredam nyeri sedangkan klorofil (yang susunan molekulnya mirip darah merah manusia) mendorong pertumbuhan sel dan jaringan baru pada luka tukak lambung.
d. Kentang
Kalium yang dikandungnya juga bisa mencegah hipertensi. Lebih dari itu, kentang dapat dibuat minuman yang berkhasiat untuk mengurangi gangguan saat haid. Bagian utama kentang yang menjadi bahan makanan adalah umbi, yang merupakan sumber karbohidrat, mengandung vitamin dan mineral cukup tinggi. Kentang memiliki kadar air cukup tinggi, yaitu sekitar 80 persen. Itulah yang menyebabkan kentang segar mudah rusak, sehingga harus disimpan dan ditangani dengan baik.
Pengolahan kentang menjadi kerupuk, tepung, dan pati, merupakan upaya untuk memperpanjang daya guna umbi tersebut. Pati kentang mengandung amilosa dan amilopektin dengan perbandingan 1:3. Dari tepung dan pati kentang, selanjutnya dihasilkan berbagai produk pangan olahan dengan beragam citarasa yang enak dan penampilan menarik. Kentang merupakan satu-satunya jenis umbi yang kaya vitamin C, kadarnya mencapai 31 miligram per 100 gram bagian kentang yang dapat dimakan. Umbi-umbian lainnya sangat miskin akan vitamin C. Kebutuhan vitamin C dalam sehari 60 mg, untuk memenuhinya cukup dengan 200 gram kentang. Kadar vitamin lain yang cukup menonjol adalah niasin dan B1 (tiamin). Dengan mengkonsumsi sebuah umbi kentang yang berukuran sedang, sepertiga kebutuhan vitamin C (33 persen) telah tercapai. Demikian juga halnya dengan sebagian besar kebutuhan akan vitamin B dan zat besi.
Selain vitamin C, pada buah dan sayur diatas juga dilakukan uji derajat keasaman yang bertujuan untuk mengetahui derajat asam pada buah pisang. Uji ini dilakukan dengan menimbang pisang yang telah dihaluskan sebanyak 10 g kemudian melarutkannya dengan air suling 50 mL. hal ini disebabkan sampel akan dilakukan titrasi sehingga harus dalam bentk larutan. Tambahkan 5 tetes indikator PP atau phenol ptalein yang berfungsi sebagai indikator yang dapat menunjukkan titik akhir titrasi atau titik ekivalen dengan berdasarkan perubahan pH sehingga akan terjadi perubahan warna. Banyaknya asam didalam sampel akan dinetralkan dengan NaOH sehingga derajat asam akan dapat dihitung. Penambahan basa (OH-) tetes demi tetes akan menetralkan asam dalam sampel.
Pada data pengamatan tertulis bahwa derajat asam dalam pisang 3,3334%, derajat asam apel 0,4982%, derajat asam kubis 2,1463% dan derajat asam kentang 5,23. Karena derajat asam menunjukkan banyaknya asam didalam sampel, maka dari sampel-sampel di atas apel merupakan buah yang banyak kadar asamnya diantara komoditi di atas; sedangkan kentang merupakan umbi yang tidak begitu asam dan bahkan mendekati netral (5,23).
Adapun contoh perhitungan derajat asam: (misalnya pada pisang)
Derajat asam 1 : (mL titrasi x Normalitas NaOH x 100%) / g bahan
: (3,1 x 0,1 x 100%) / 10,060 = 3,0815%
Derajat asam 2 : (6 x 0,1 x 100%) / 10,041 = 3,5853%
Sehingga rata-ratanya menjadi 3,3334%.
Pengujian secara fisik yang dilakukan terhadap buah dan sayur diatas yaitu uji organoleptik. Uji organoleptik pada pisang menunjukkan bahwa pisang berkualitas baik karena memiliki bau wangi yang khas pisang dengan kulit berwarna kuning serta warna pisang putih kekuningan. Ketika dilakukan pencicipan pun pisang benar-benar matang didalam seluruhnya. Pisang juga mempunyai tekstur yang empuk.
Uji organoleptik yang dilakukan terhadap apel menunjukkan bahwa apel memiliki rasa yang manis dengan warna kulit hijau dan warna daging buah putih. Aromanya pun khas apel. Apel ini terasa segar ketika dimakan karena banyak mengandung air. Teksturnya pun renyah dan tidak alot. Apel memiliki kualitas yan baik.
uji organoleptik menunjukkan bahwa kubis memiliki rasa yang segar dengan sedikit getir karena mentah. Warnanya putih kekuningan dengan aroma yang khas. Sedangkan kentang memiliki rasa yang khas kentang mentah, aroma yang khas dengan warna kuning kecoklatan. Kentang terlihat segar karena banyak mengandung air. Kentang ini memiliki mutu yang baik hanya saja ukurannya kurang besar.
8. KESIMPULAN
Setelah melakukan kegiatan praktikum dapat disimpulkan bahwa :
Kadar vitamin C pisang 0,329%, apel 0,2657%, kubis 2789% dan kentang 0,145%
Derajat asam pada pisang 3,3334%, apel 0,4982, kubis 2,1463% dan kentang 5,23%
Buah dan sayur memiliki kualitas yang baik karena komoditi masih segar dan sifat fisiknya banyak diminati.
DAFTAR PUSTAKA
Sudarmadji, dkk. 2003. Analisa Bahan Makanan Dan Pertanian. Yogyakarta: penerbit Liberty.
http://herbalupdate.blogspot.com
http://www.wikipedia.co.id
Lily dan Noni. 2008. Pengujian Secara Organoleptik. Vedca Cianjur: modul PJJ.

Read Users' Comments (0)

0 Response to "laporan praktikum pengujian mutu buah dan sayur"

Poskan Komentar